Konsep ekonomi kreatif pertama kali muncul dan dikenal ketika John Howkins (2001) menulis buku Creative Economy, How People Make Money From Ideas.John Howkins adalah seorang berkebangsaan Inggris yang memiliki multiprofesi.

 

Selain sebagai pembuat film ia juga aktif menyuarakan ekonomi kreatif kepada pemerintah Inggris, sehingga ia banyak terlibat dalam diskusi-diskusi pembentukan kebijakan ekonomi kreatif di kalangan pemerintah negara-negara Eropa. 

John Howkins (2001) mendefenisikan ekonomi kreatif sebagai kegiatan ekonomi yang menjadikan kreativitas, budaya, warisan budaya dan lingkungan sebagai tumpuan masa depan. Pengembangan dan penerapan konsep ekonomi kreatif diinspirasi oleh pemikiran Robert Lucas (pemenang nobel di bidang Ekonomi), bahwa kekuatan yang menggerakkan pertumbuhan dan pengembangan ekonomi dapat dilihat dari tingkat produktivitas klaster orang-orang bertalenta dan orang-orang kreatif atau manusia-manusia yang mengandalkan kemampuan ilmu pengetahuan yang dimilikinya.

 Konsep ekonomi kreatif itu kemudian dikembangkan oleh seorang ekonom, Richard Florida (2001) dari Amerikat. Dalam bukunya The Rise of Creative Class dan Cities and The Creative Class, dia mengulas tentang industri kreatif dan kelas kreatif di masyarakat. Menurut Florida (2001) : Seluruh umat manusia adalah kreatif, apakah ia seorang pekerja di pabrik kacamata atau seorang remaja di gang senggol yang sedang membuat musik hip-hop. Namun, perbedaannya adalah pada statusnya, karena ada individu-individu yang secara khusus bergelut di bidang kreatif (dan mendapat faedah ekonomi secara langsung dari aktivitas itu). Tempat-tempat dan kota-kota yang mampu menciptakan produk-produk baru yang inovatif tercepat akan menjadi pemenang kompetisi di era ekonomi ini.

 Di Amerika Serikat, keberadaan Sumber Daya Manusia (SDM) kreatif digolongkan sebagai strata baru yang disebut creative class. Sekitar 30% pekerja dalam strata ini penghasilannya mencapai US$2 triliun. Kontribusi yang demikian besar itu menjadi salah satu alasan mengapa SDM kreatif patut diperhitungkan. Menurut, Richard Florida (2001), SDM kreatif meliputi orang-orang yang menekuni profesi sebagai scientist, insinyur, arsitek, desainer, pendidik, artis, musisi, entertainer, dan termasuk juga para pekerja dari sector manajemen yang pekerjaannya mengandalkan daya pikir dalam memecahkan masalah dan pengambilan keputusan. Mereka adalah orang-orang yang menemukan dan menciptakan ide-ide baru, konten baru, metode, dan teknologi baru.

 Dari uraian di atas jelas bahwa konsep ekonomi kreatif sesungguhnya adalah wujud dari upaya mencari model pembangunan berkelanjutan sebagai suatu iklim ekonomi yang berdaya saing dan memiliki cadangan sumber daya terbarukan melalui eksploitasi modal kreativitas. Dengan kata lain, ekonomi kreatif adalah manifestasi dari semangat bertahan hidup yang sangat penting bagi negara-negara maju dan juga menawarkan peluang yang sama untuk negara-negara berkembang. Pesan penting yang ditawarkan ekonomi kreatif adalah pemanfaatan cadangan sumber daya terbaru yang jumlahnya tak terbatas, yaitu ide, talenta, dan kreativitas.

Negara-negara membangun ekonomi kreatif dengan caranya masing-masing sesuai dengan kemampuan yang ada pada negara tersebut. Ada beberapa arah dari pengembangan ekonomi kreatif ini, seperti pengembangan yang lebih menitikberatkan pada industri berbasis: (1) lapangan usaha kreatif dan budaya (creative cultural industry); (2) lapangan usaha kreatif (creative industry); atau (3) Hak Kekayaan Intelektual seperti hak cipta (copyright industry).

Daniel L. Pink (2005), mengungkapkan bahwa di era ekonomi kreatif, bila ingin maju kita harus melengkapi kemampuan teknologi kita (high-tech) dengan hasrat untuk mencapai tingkat high concept dan high touch. High concept adalah kemampuan menciptakan keindahan artistic dan emosional, mengenali pola-pola dan peluang, menciptakan narasi yang indah dan menghasilkan temuan-temuan yang belum disadari orang lain. High touch adalah kemampuan berempati, memahami esensial interaksi manusia, dan menemukan makna.

Beberapa prinsip yang harus dimiliki dala pola pikir kreatif itu adalah: 1) Not just function but also…design; 2) Not just argument, but also…story; 3) Not just focus, but also…symphony; 4) Not just logic, but also…empathy; 5) Not just seriousness, but also…play; dan 6) Not just accumulation, but also…meaning.

Howard Gardner, penulis buku yang popular dengan teori kecerdasan majemuk (Multiple Intellegence), dalam bukunya yang terbaru, yaitu Five Minds of The Future, menyatakan bahwa terdapat lima pola pikir utama yang diperlukan di masa yang akan datang, yaitu:

- Pola pikir disipliner (The Disciplinary Mind), yaitu pola pikir yang dipelajari di bangku sekolah. Dahulu yang dianggap sebagai disiplin ilmu adalah ilmu-ilmu seperti sains, matematika, dan sejarah. Saat ini, sekolah-sekolah harus mengajarkan paling tidak satu bidang seni secara serius seperti halnya disiplin ilmu lainnya.

- Pola pikir mensintesiskan (The Synthesizing Mind), yaitu kemampuan menggabungkan ide-ide dari berbagai disiplin ilmu atau menyatukannya ke dalam satu kesatuan dan kemampuan menyampaikan hasil integrasi itu kepada orang banyak. Sering kali ditemukan bahwa sebuah solusi yang dicari-cari ternyata justru ditemukan di area disiplin lain yang sama sekali berbeda dan sepintas tidak terlihat ada korelasinya. Pola pikir mensintesiskan melatih kesadaran untuk berpikir luas dan fleksibel, mau menerima sudut pandang dari multidisiplin. Dalam konteks luas, dengan semakin banyaknya orang seperti ini dalam komunitas, maka komunitas itu akan semakin menjadi produkti dan semakin kreatif. Dalam konteks bisnis, ide-ide baru tersebut akan lebih mudah diterima oleh konsumen. Dalam hal memperkenalkan produk atau jasa baru, strategi komunikasi dan pencitraan yang diperkuat dengan kemampuan mensintesiskan akan meningkatkan kesuksesan di pasar.

- Pola pikir kreasi (The Creating Mind), yaitu kemampuan untuk menemukan dan mengungkapkan jawaban dari suatu masalah atau fenomena yang ditemuinya. Dalam konteks desain, proses kreasi selalu diawali dengan pengumpulan masalah yang ada yang harus dipecahkan. Di akhir proses, akan dihasilkan desain-desain baru yang tidak lain adalah hasil pemecahan suatu masalah. Tentu saja agar hasil maksimal, proses kreasi harus dibekali dengan bakat yang cukup. Dalam konteks bisnis, kemampuan ini bisa menggerakkan perusahaan-perusahaan untuk lebih proaktif, tidak hanya mengikuti trend, tetapi justru menciptakan trend.

- Pola pikir penghargaan (The Respectful Mind), yaitu kesadaran untuk mengapresiasi perbedaan di antara kelompok-kelomppok manusia. Pola pikir seperti ini sangat dibutuhkan dalam menciptakan keharmonisan dalam lingkungan organisasi. Richard Florida (2001) mengatakan bahwa faktor penting agar kreativitas dapat tumbuh dan berkembang adalah dengan adanya tingkat toleransi yang tinggi di antara sesame anggota komunitas, yaitu komunitas yang menghargai perbedaan. Tidak kalah pentingnya adalah sikap untuk menghargai karya cipta orang lain.

- Pola pikir etis (The Ethical Mind), yaitu kesadaran untuk memiliki tanggung jawab moral yang tinggi baik sebagai seorang pekerja maupun sebagai warga negara. Dalam konteks perubahan iklim dunia, penanaman nilai-nilai etika terhadap lingkungan dapat mendorong terciptanya produk yang ramah lingkungan. Dalam konteks pekerjaan, ia akan menjadi seorang yang produktif dalam menghasilkan terobosan-terobosan baru dan ia merasa malu bila ia meniru produk lain secara terus terang.

 - Pola pikir yang telah dijabarkan di atas tentunya merupakan pola pikir kreatif yang sangat diperlukan untuk tetap tumbuh dan berkembang serta bertahan di masa yang akan datang. Sebab untuk menjadi pekerja kreatif, seseorang tidaklah cukup hanya memiliki bakat pandai menggambar, menari, menyanyi, menulis cerita, dan lain sebagainya, melainkan ia harus memiliki kemampuan mengorganisasikan ide-ide multidisipliner dan kemampuan memecahkan beragam masalah dengan cara-cara di luar kebiasaan. Mengapa cara-cara diluar kebiasaan itu perlu ? alasannya sederhana, bila suatu teori atau cara menjadi populer, makan semakin lama keampuhan teori atau cara itu akan semakin berkurang karena semua orang menggunakan pendekata-pendekatan berdasarkan teori yang sama.

Thomas L. Friedman (2005) dalam pembahasan The New Middlers (maksudnya adalah orang-orang generasi baru yang mampu membuat dunia menjadi sangat dekat/flat) menyebut tujuh kemampuan wajib yang harus disiapkan oleh orang-orang yang ingin berlaga di arena pekerjaan apa pun pekerjaan itu, yakni kemampuan: 1) berkolaborasi dan mengorkestrasi; 2) menjabarkan suatu konteks; 3) mensintesiskan segala sesuatu; 4) menciptakan nilai tambah; 5) mengadaptasi terhadap lingkungan baru; 6) kesadaran yang tinggi terhadap fungsi kelestarian alam; dan 7) kemampuan handal dalam meciptakan kandungan lokal.

Yang dapat dipelajari dari pandangan ketiga cendekiawan tersebut adalah kecenderungan manusia untuk mulai memikirkan soft value atas segala sesuatu yang akan dilakukan, baik itu kegiatan ekonomi, bisnis, pendidikan maupun kegiatan sosial di masa depan. Kesemuanya itu tidak akan terjadi manakala manusia tidak mulai mengaktifkan daya imajinasi dan kreativitasnya, sehingga di era ekonomi kreatif ini, kreativitas mutlak diperlukan sebagai landasan dasar pengembangan industri kreatif.

Agar ekonomi kreatif itu dapat hidup dan bertumbuh kembang, maka kuncinya adalah harus ada kreativitas, di mana esensi dari kreativitas itu adalah gagasan. Lalu, seperti apakah gagasan yang dimaksud ? Tidak lain adalah gagasan yang orisinil dan dapat diproteksi oleh Hak Kekayaan Intelektual (HAKI), seperti misalnya periset mikro biologi yang meneliti varietas unggul kakao yang belum pernah diciptakan sebelumnya atau pencipta lagu-lagu daerah yang memiliki nilai dan unsur-unsur seni yang tinggi.

Yang menarik adalah adanya pertanyaan tentang apa yang baru dari ekonomi kreatif itu ? yang baru adalah keterhubungan atau menyatunya makna ekonomi dan makna kreatif yang kemudian menghasilkan penciptaan nilai ekonomi tinggi dan lapangan kerja baru melalui proteksi HAKI.

Implementasi konsep ekonomi kreatif dalam aksi pengembangan industri kreatif di beberapa negara, ternyata industri ini memainkan peran yang signifikan. Misalnya Inggris yang dikenal sebagai pelopor dalam pengembangan ekonomi kreatif, industri kreatifnya tumbuh rata-rata 9% per tahun jauh di atas rata-rata pertumbuhan ekonominya yang hanya sekitar 3%. Sektor ekonomi kreatif ini kontribusinya terhadap pendapatan nasional mencapai 8.2% atau US$ 12,6 miliar dan merupakan sumber kedua terbesar setelah sektor finansial yang melampaui pendapatan dari industri manufaktur serta migas. Di negeri ini, sektor ekonomi kreatif tercatat memberikan kontribusi bagi penciptaan lapangan kerja baru sampai sebesar 30% (Richard Florida & Irene Tinagli, 2004).

Di Korea Selatan, sejak tahun 2005 sumbangan industri kreatif melebihi industri manufaktur. Demikian halnya di Singapura dan Amerika Serikat, sumbangan industri kreatif mencapai 5% terhadap PDB. Khusus untuk Amerika Serikat, saat itu tecatat sebanyak 40 juta penduduknya bekerja di sektor industri kreatif.

Berkembangnya industri kreatif khususnya di Amerika Serikat dan Inggris berdampak besar terhadap ekonomi di negara-negara lain khususnya negara-negara di Asia, berupa kegiatan subkontrak. Dalam hal ini pasar global untuk subkontrak SDM kreatif belum dirasakan penuh oleh pekerja-pekerja kreatif di Indonesia. Kendala yang dihadapi SDM kreatif Indonesia saat ini addalah: 1) SDM kreatif berbasis artistik belum memahami konteks kreativitas di era industri kreatif secara menyeluruh sehingga masyarakat melihat dunia artistik sebagai dunia yang eksklusif; 2) SDM kreatif berbasis non-artistik (sains dan teknologi) terlalu mikroskopis dalam melihat keprofesiannya sehingga kadang terlalu mekanistis dalam berpikir sehingga kurang inovatif; dan 3) SDM kreatif baik yang berbasis artistik maupun yang non-artistik kekurangan sarana untuk bereksperimen dan berekspresi sehingga hasil karya mereka masih kurang kreatif dan kurang inovatif. Akibatnya industri lokal dan internasional belum melihat kepentingan yang besar untuk mengadopsi ide-ide baru dari mereka. Melihat kondisi seperti ini, maka diperlukan penanaman pola pikir kreatif yang lebih kontekstual dan diterapkan di segala sisi kehidupan, baik dari sisi pendidikan, budaya maupun motivasi kewirausahaan.

Dalam perkembangan selanjutnya, negara-negara di Asia mulai menunjukkan kematangannya. India misalnya, telah terkenal dengan industri film dan industri piranti lunak, Jepang dan Korea dikenal karena kemampuannya menciptakan produk-produk elektronik, otomotif, dan industri konten. Oleh karena itu, tidak mengherankan jika kemudian pemerintah di masing-masing negara tersebut menggenjot  perkembangan sektor industri kreatif dengan mendorong berbagai inisiatif masyarakat untuk meningkatkan kemampuan di bidang kreatifitas dengan menciptakan berbagai kebijakan publik yang fokus pada peningkatan kualitas sumber daya manusia dan perkembangan teknologi. Selain itu, di banyak negara maju pemerintah setempat sering menjalin hubungan kerja sama dengan berbagai elemen masyarakat agar dapat mendorong penguasaan di bidang informasi dan pengetahuan secara luas.

Untuk itu diciptakanlah berbagai kebijakan dan insentif yang dapat memicu pertumbuhan di sektor industri kreatif dengan melibatkan pemerintah, lembaga keuangan, institusi pendidikan formal, dan berbagai kelompok independen yang menjadi tulang punggung bagi upaya perkembangan industri kreatif.

Di Indonesia, ekonomi kreatif mulai diakui memiliki peran yang sangat strategis dalam pembangunan ekonomi dan pengembangan bisnis. Hanya saja, ia belum banyak tersentuh oleh campur tangan pemerintah. Hal ini dikarenakan pemerintah belum menjadikannya sebagai sumber pendapatan negara yang penting. Pemerintah masih fokus pada sektor manufaktur, fiscal, dan agrobisnis.

Dalam tiga tahun terakhir ini istilah ekonomi kreatif atau industri kreatif mulai marak dibicarakan. Utamanya sejak Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menyebut pentingnya pengembangan ekonomi kreatif bagi masa depan ekonomi Indonesia.

Ibarat gayung bersambut, ajakan presiden itu mendapat sambutan hangat, ketika Menteri Perdagangan RI Maria Elka Pangestu meluncurkan program Indonesia Design Power di jajaran Departemen Perdagangan RI, yaitu suatu program pemerintah yang diharapkan dapat memacu peningkatan daya saing produk-produk Indonesia di pasar domestik dan pasar Internasional.

Dari uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa implementasi konsep ekonomi kreatif ke bentuk pengembangan industri kreatif adalah solusi cerdas dalam mempertahankan keberlanjutan pembangunan ekonomi dan pengembangan bisnis di era persaingan global.