Kesultanan Deli adalah salah satu dari empat Kesultanan Besar yang ada di Sumatera Utara. Nama DELI sendiri diambil dari riwayat Raja Deli I yakni Tuanku Gotjah Pahlawan yang merupakan keturunan dari Raja Delhi Akbar (Hindustan, India).

 

Wilayah Kesultanan Deli dibagi atas 4 wilayah besar dimana setiap wilayah dipimpin oleh Kepala Urung:

- Kepala Urung XII Kuta (Sepuluh Dua Kuta) yang wilayahnya mencakup Hamparan Perak, Tandem, dan Buluh Cina,

- Kepala Urung Serbanyaman yang wilayahnya mencakup Sunggal, Helvetia, dan Diski,

- Kepala Urung Sukapiring yang wilayahnya mencakup sebagian wilayah kota Medan,

- Kepala Urung Senembah Deli yang wilayahnya mencakup Deli Tua sampai ke Tanjung Morawa.

Selain itu juga ada tiga wilayah yang dikepalai oleh kerabat Sultan yaitu :

- Percut dikepalai oleh Kejuruan Paduka Raja Percut

- Padang (Tebing Tinggi) dikepalai oleh Maharaja Padang

- Bedagai dikepalai oleh Pangeran Nara Kelana Bedagai

Empat Kepala Urung ini  serta tiga wilayah yang disebutkan, memiliki peran besar didalam Kesultanan. Sultan juga menempatkan kepala-kepala kampung atau yang ketika dahulu disebut “Penghulu” untuk wilayah Tanah Karo dan sekitarnya.

Di sepanjang sejarah keberadaannya. Kerajaan Deli sudah wujud sejak paruh pertama abad ke-17 M, hingga pertengahan abad ke-20 M Sampai ketika memutuskan untuk bergabung dengan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Sampai saat ini Kesultanan Deli masih eksis sebagai sebuah Kesultanan dimana Sultan nya bertindak sebagai Pemangku Adat dan Adat Istiadatnya masih tetap dilaksanakan sebagai cermin dari budaya bangsa yang luhur.

 

Sultan – Sultan di Kesultanan Deli :

(1632-1669) Tuanku Gotjah Pahlawan (Marhum Batu Jergok)

(1669-1698) Tuanku Panglima Parunggit (Marhum Kesawan)

(1698-1728) Tuanku Panglima Paderap

(1728-1761) Tuanku Panglima Pasutan (Marhum Kampung Besar)

(1761-1805) Tuanku Panglima Gandar Wahid (Marhum Bawah Hijau)

(1805-1850) Sultan Panglima Amaluddin Mangedar Alam

(1850-1858) Sultan Osman Perkasa Alam (Marhum Mesjid)

(1858-1873) Sultan Mahmud Perkasa Alam (Marhum Kota Batu)

(1879-1924) Sultan Ma’moen Al Rasyid Perkasa Alamsyah (Marhum Makmur)

(1924-1945) Sultan Amaluddin Sani Perkasa Alamsyah (Marhum Rahimullah)

(1945-1967) Sultan Osman Al Sani Perkasa Alamsyah (Marhum Tawakkallah)

(1967-1998) Sultan Azmi Perkasa Alamsyah

(1998-2005) Sultan Otteman Mahmud Paderap Perkasa

(2005-sekarang) Sultan Mahmud Lamantjiji Perkasa Alamsyah

Regalia Kesultanan Deli

Makna dari simbol Kesultanan Deli

- Mahkota berpuncakkan bintang : lambang kedaulatan kerajaan islam

- Payung tiga tingkat : lambang kedaulatan negeri (Raja, Orang Besar, dan Rakyat)

- Bendera dengan dua bintang : lambang kesultanan yang mendapat ilham, terjaga, dan bijaksana

- Tombak berambu : Kawal utama luar (regalia)

- Pedang : Kawal kedua (regalia)

- Keris : Kawal Terakhir (regalia)

- Sulur tembakau di kiri dan kanan : lambang kemakmuran dan kejayaan

- Perisai dengan peterakna, tongkat, dan tepak : lambang kepemimpinan adat, hukum, dan rakyat yang terjaga

- Lima sayap ekor dibawah : Hukum Islam yang 5 jadi landasan

- Simetris : adil dan tidak berat sebelah

Istana Maimoon

Almarhum Seripaduka Tuanku Sultan Ma’moen Al-Rasyid adalah Sultan Deli ke IX yang memerintah pada tahun  1873 - 1924, dimana semasa pemerintahan beliau Kesultanan Deli mengalami masa kejayaan, semenjak dipindahkannya ibukota kerajaan dari kota Labuhan ke kota Medan. Pemindahan ibukota kerajaan ini ditandai dengan dimulainya pembangunan Istana Maimoon pada tahun 1888 dan Mesjid Raya Al Mashun pada 1906 dimana Istana dan Mesjid merupakan dua buah bangunan yang lazim keberadaannya bagi sebuah Kerajaan Islam.

Istana Maimoon didirikan pada tanggal 26 Agustus 1888 yang pada awalnya berfungsi sebagai “Istana Negara” (karena hanya digunakan Sultan sebagai tempat pertemuan, upacara adat, dan untuk menerima tamu kehormatan bukan sebagai Istana tinggal) karena Istana tinggal Sultan pada masa itu adalah Istana Puri. Istana Maimoon dibangun oleh seorang arsitek ternama KNIL Th. Van Erp atas titah Duli Yang Maha Mulia Sultan Ma’moen Al Rasyid diatas tanah seluas ±4,5 Ha dengan luas bangunannya sendiri ± 2.700 m². Seni bina yang dapat kita lihat dari bangunan Istana ini adalah merupakan perpaduan antara dua budaya besar dan satu budaya asli yakni budaya barat, budaya timur dan budaya melayu itu sendiri. Hal ini dapat kita saksikan dari ukiran-ukiran dan ornamen-ornamen yang ada di dalam Istana Maimoon.

Sampai saat ini Istana Maimoon masih di gunakan oleh Sultan Deli beserta keluarga besar dan kerabatnya untuk upacara-upacara adat seperti Istiadat Kemangkatan Sultan, Istiadat Penganugerahan Gelar, Istiadat Menjunjung Duli Hari Raya Idul Fitri & Hari Raya Idul Adha, Istiadat Hari Keputeraan Sultan, Acara Perkawinan, Jamuan Tamu Kehormatan, Pengajian keluarga, Musyawarah dan lain-lain.

Istana Maimoon juga merupakan salah satu Obyek Wisata di Kota Medan yang  sudah di Iktiraf oleh Kementrian Budaya dan Pariwisata Republik Indonesia sesuai dengan SK Menteri No PM.01/ PW.007/ MKP/ 2010, Sepanjang keberadaanya, Istana Maimoon sudah menjadi simbol dalam perjalanan sejarah Kota Medan. Serta menjadi objek wisata budaya yang setiap hari di kunjungi wisatawan lokal maupun mancanegara.