Kota Medan dari dulu memang sudah terkenal dengan logat bahasanya yang sangat khas. Beberapa kosa katanya memiliki arti yang berbeda walau sama kosa katanya dengan bahasa Indonesia. Hal inilah yang menciptakan berbagai cerita lucu di Kota Medan.

 

Beberapa cerita lucu di Kota Medan ini memang kebanyakan terjadi karena salah persepsi dari orang Medan dan juga orang dari luar Kota Medan. Kadang kalau kita mengalaminya memang menjengkelkan. Namun akan menjadi cerita lucu jika kita mengingatnya.

Yuk, kita simak beberapa cerita lucu Medan di bawah ini. Siap-siap senyum sendiri setelah membacanya ya...

 1.      Orang Batak Medan

Seorang supir truk bermarga Siregar berhenti di depan gerobak penjual minuman, di sebuah pasar di Solo. "Kasih dulu cendolnya, mbak.." "Mboten enten, Mas (Cendol sudah tidak ada)" jawab si pedagang perempuan dengan lembutnya.  "Hah, nggak pakek santen pun gak papalah..." kata si supir Batak lagi dengan sedikit memaksa. "Sampun telas, Maaas (Cendol sudah habis)," jawab si pedagang perempuan lagi dengan sabarnya. "Hah, nggak pakek gelas pun gak papalah..." "Dasar wong edan (dasar orang gila)" gerutu si pedagang sambil kebingungan.
"Heh ?! Koq tau pulak kau kalau aku orang Medan!"

2.      Jangan Sayur

Pak Parno yang merupakan orang Jawa totok yang tidak tahu bahasa Indonesia mengadakan kenduri. Si Ucok dari Medan yang tidak mengerti bahasa Jawa pun turut diundang.
Saat jamuan makan berlangsung: Pak Parno : "Monggo mas... dikrasani." (silakan mas, dicicipi) "Niki jangan, niki jangan.." (sambil nunjuk masakan sayur, ayam) Dalam hati Si-Ucok: "Bah!! Sayur jangan, ayam jangan.. Jadi Aku makan nasi sama sambel tok..

3. Bawa oleh-oleh mangga dari Toba ke Bandung

Suatu waktu seorang Bapak yang baru datang dari Danau Toba mengunjungi anaknya yang sudah lama merantau di Bandung. Setelah beberapa hari tinggal di rumah anaknya dia pun bermaksud mengunjungi familinya yang tidak jauh tinggalnya dari tempat kost anaknya di perkampungan yang padat dan harus melewati gang-gang. Dia pun membeli 2 kg mangga sebagai oleh-oleh.

Di perjalananan karena gangnya memang sempit, setiap kali dia melewati orang-orang yang sedang duduk depan rumahnya, si Bapak mengatakan permisi dan disahut "mangga". Si Bapak merasa heran, kok mereka tahu ya saya bawa mangga ? Lalu diberikannya sebuah mangga kepada orang tersebut, demikian seterusnya setiap kali dia mengatakan permisi dan disahut "mangga", dia memberikan sebuah mangga. Sampai akhirnya habislah mangga yang dibelinya tersebut.

Sesampai di rumah kerabatnya, dia pun menceritakan bahwa tadinya dia membawa mangga untuk oleh-oleh, tetapi diperjalanan habis diminta orang-orang. Dia pun menceritakan apa yang dialaminya dan kerabatnya itu pun tertawa terbahak-bahak.

4. Tanah Abang

Pemuda Jawa : "Maaf, saya orang baru di Jakarta, baru datang dari Jawa... apakah ini Tanah Abang ?" Pemuda Batak : "Oh bukan.... ini bukan tanah aku, sumpah! Aku juga baru datang dari Medan, jadi aku juga gak tahu tanah siapa ini"

5. Pancasila vs Trisila

Kalau bangsa Indonesia mempunyai Pancasila, suku Batak hanya punya Trisila : Silaban, Silaen dan Silalahi.

Bagaimana dengan cerita lucu Medan di atas ? Membuat perutmu sakit karena menahan tawa ? Ya masih banyak cerita lucu Medan lainnya yang terjadi karena salah persepsi dari beberapa kata yang memang berbeda antara Medan dan bahasa Indonesia. Semoga menghibur.