Sebagaimana yang tercatat di dalam Mission to the East Coast of Sumatera by John Anderson tahun 1823, “The Women plant and beat paddy, carry water, spin, weave, and dye cloths...”.

 

Deli pada tahun 1823 adalah masa dimana para kaum wanita menanam dan menumbuk padi, memikul air, memintal, menenun, dan mewarnai kain. Berdasarkan bukti sejarah inilah Yayasan Khazanah Warisan Melayu Deli kemudian memproduksi kembali kain tenun yang dikenal hari ini dengan sebutan Songket Deli.

Yayasan Khazanah Warisan Melayu Deli adalah sebuah yayasan yang dibina oleh Ibu Dr. Tengku Syarfina, M.Hum dan diketuai oleh Irham Syahrezi . Yayasan ini bertekad untuk memproduksi dan memperkenalkan kembali khazanah warisan dari tanah deli yang hilang ditelan arus modernisasi. Dan Songket Deli adalah produk pertama yang ingin diperkenalkan yayasan ini kepada Masyarakat khususnya Masyarakat Kota Medan. Kedepannya masih banyak lagi khazanah warisan melayu deli yang akan dihadirkan, dan produk nya juga akan bermacam – macam. Dari fashion hingga kuliner.

Songket Deli yang saat ini sedang gencar-gencar nya promosi, didominasi oleh motif Daun Tembakau. Mengapa Daun Tembakau? Dahulu, Medan yang dikenal sebagai Tanah Deli ini pernah terkenal sampai keseluruh dunia karena produksi Daun Tembakau Deli nya yang digunakan untuk membungkus Cerutu. Cerutu dari Deli adalah Cerutu terbaik dan diakui dunia pada sekitar awal tahun 1900an. Hingga tahun 1945, Indonesia merdeka dan kualitas serta produksi Daun Tembakau berkurang bahkan hilang. 

Untuk itu melalui kerajinan tangan yang indah ini lah, Daun Tembakau Deli kembali dimunculkan didalam kain songket dengan tujuan untuk mengenang kembali serta memberi semangat bagi sesiapa pun yang memakai Songket Deli ini.