Membangun pencitraan melalui pengembangan ekonomi kreatif, dapat ditempuh melalui berbagai cara, di antaranya adalah:

 

- Melestarikan budaya lokal yang disertai dengan penyesuaian terhadap perkembangan terbaru yang lebih modern agar menarik minat generasi muda dan pasar Internasional. Hal ini sejalan dengan karakteristik industri kreatif sebagai sektor  industri yang dapat memberi pembaruan dalam pelestarian budaya sekaligus mengeksplorasi potensi ekonominya

- Melestarikan dan memperkuat nilai-nilai budaya untuk meningkatkan reputasi Indonesia di mata dunia melalui konservasi cagar budaya dan proteksi warisan budaya

- Membangun perilaku dan semangat kreativitas masyarakat berbasis budaya secara konsisten yang tercermin di segala dimensi sosial kemasyarakatan

- Meningkatkan rasa memiliki budaya yang diwariskan oleh leluhur guna menumbuhkan perilaku kebanggaan atas budaya lokal dan kebanggan memakai produk produksi dalam negeri yang dapat mendukung pencitraan negara, dan

- Meningkatkan konektivitas melalui kemajuan teknologi yang disinergikan dengan nilai-nilai simbolik suatu produk agar bisa membawa suatu negara yang berkarakter spesifik.

Selain hal yang dijelaskan di atas, kejujuran juga merupakan salah satu faktor yang sangat dibutuhkan untuk membentuk pencitraan negara (Nation Brand). Begitupun dengan transparansi dan akuntabilitas serta masyarakat yang berperilaku baik harus menjadi nilai-nilai yang dijunjung tinggi. Untuk itu, perlu mengutamakan cara-cara yang simpatik dalam membentuk citra yang baik.

Sebaliknya, cara-cara dan perilaku yang syarat dengan ketidakjujuran justru akan berakibat munculnya risiko yang sangat besar yang harus ditanggung oleh negara. Dengan demikian, pencitraan itu penting dan harus dibangun seluas mungkin dengan cara-cara simpatik dan menjatuhkan segala bentuk ketidakjujuran. Hal ini penting agar terbentuk identitas nasional di mata masyarakat internasional maupun lokal.

1. Dimensi Nation Branding

Analisis pemeringkatan terhadap pencitraan bangsa-bangsa di dunia yang banyak dijadikan acuan saat ini adalah Anholt Nation Brand Index (NBI). Setiap empat bulan sekali NBI mengumpulkan persepsi 25.000 orang dari 35 negara-negara maju dan negara berkembang tentang aset-aset budaya, politik, komersial, dan aset  manusia, potensi investasi, dan daya tarik pariwisata. Hasilnya untuk membuat peringkat kekuatan dan penampilan citra suatu bangsa dan memaparkan cerita masyarakat dunia apabila melihat negara tersebut. Dimensi nation brand dalam Anholt Nation Brand Index merupakan gabungan dari faktor-faktor yang disebut Nation Brand Hexagon yang meliputi : a) ekspor; b) sumber daya insani; c) pariwisata; d) pemerintahan; e) budaya dan warisan budaya; f) imigrasi dan investasi.

2. Aktor Penting dalam Pencitraan Negara

Pada umumnya sebuah negara mengupayakan pencitraan melalui kegiatan promosi perdagangan, investasi dan pariwisata. Padahal, pencitraan suatu negara tidak hanya terkait dengan tiga aspek tersebut, melainkan pencitraan itu mengandung makna yang lebih luas seperti yang telah dijelaskan dalam dimensi Anholt Nation Brand Index. Pencitraan negara harus digerakkan, dikampanyekan, dan dikawal oleh pemerintah, sementara sektor swasta diharapkan dapat berperan penting dalam proses pembentukannya. Dalam hubungan ini, pemerintah juga harus mengedukasi sehingga citra negara dapat dipersepsikan sama dan dengan baik oleh rakyatnya.

Hingga saat ini, belum banyak negara yang melakukan pencitraan secara khusus dan intensif. Pencitraan negara yang sukses akan memberikan manfaat bagi negara untuk jangka panjang, antara lain: dapat meningkatkan kecintaan warga negara terhadap bangsanya, masuknya investasi ke dalam negeri, dan tumbuhnya industri pariwisata sehingga pada gilirannya akan meningkatkan kesejahteraan di negara tersebut.