Artikel ini adalah Juara III Kompetisi Menulis Artikel (KoMA) 2014

Karya : Tonggo Simangunsong

Media : Harian Medan Bisnis

Judul : Mengukur Kesiapan Industri Kreatif Medan Menghadapi MEA 2015

 

Kota Medan memiliki posisi geografis strategis karena berada di antara negara-negara yang memiliki pilar perekonomian kuat di Asia Tenggara, seperti Singapura, Malaysia dan Thailand. Selain didukung sektor perdagangan, juga didukung industri pariwisata. Keduanya berkaitan dengan industri kreatif. Karena itu, ketika kran Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) dimulai pada 2015 nanti, Medan memiliki potensi besar. Bukan tidak mungkin kekayaan potensi Medan akan merajai di Asia Tenggara. 

 “Letak geografis yang sangat strategis itu sebenarnya punya nilai lebih pada Medan, khususnya dalam industri kreatif, termasuk seni rupa. Karena itu, penggiat seni rupa Medan seharusnya dapat memanfaatkan kesempatan itu,” kata Franky Pandana, penggiat seni rupa Medan, pemilik Rumah Seni Embun, Medan. Seni rupa merupakan satu sub industri kreatif yang cukup berkembang di Kota Medan selama satu dekade belakangan.

 Menurut Fathraria Damanik, penggiat industri kreatif dengan brand clothing Tauko Medan, selain seni rupa ada beberapa bidang dan sub bidang industri kreatif yang sampai kini mengisi ruang kreatif Medan, yang pada akhirnya bernilai ekonomi. Antara lain, fashionmencakup clothing, kerajinan, sinematografi dan fotografi, musik, penerbitan majalah (media), penerbitan buku, start-up (IT), komik dan animasi maupun seni pertunjukan termasuk di dalamnya stand-up comedy.

 Semua bidang industri kreatif itu dapat dikembangkan sehingga bernilai ekonomi tinggi yang pada ujungnya mampu menghasilkan devisa bagi negara. Peluang itu semakin terbuka ketika perusahaan asing yang berekspasi ke Medan melihat meluang itu dan menjalin kerjasama yang saling menguntungkan.

Seni rupa misalnya, seperti kata Franky, ia telah menjalin kerjasama dengan galeri seni di Penang, Malaysia dalam penggelaran pameran. Dari pameran itu, Franky memamerkan sejumlah karyanya dan mendapat apresiasi di negara tetangga itu. Demikian pula sebaliknya. 

Menurut Fathra, clothing seperti kaus dengan berbagai slogan Medan telah menjadi brand yang melekat sejauh ini dengan Tauko Medan. Ia melihat, budaya Medan yang unik itu dapat bernilai ekonomi apabila disertai kreatifitas. “Sederhana saja, ada pesan moral, dan ada nilai ekonominya juga,” kata Fathra.

Saat ini, usaha clothing sejenis juga telah diikuti sejumlah pengusaha clothing di Medan dengan menggunakan embel-embel Medan. Sisi positifnya, selain memperkenalkan Medan lebih luas, kaus Medan juga telah menjadi satu ikon souvenir pariwisata Medan, yang tentunya juga mendukung industri kreatif bidang fashion.

Bidang industri kreatif yang tidak kalah menjanjikan ialah kerajinan dikarenakan Medan memiliki kekayaan budaya yang unik. Bahkan, Medan kerap disebut sebagai miniatur budaya Indonesia dikarenakan hampir semua etnis yang ada di Indonesia, ada di Medan.

“Keunikan budaya itu bisa berdaya jual, apalagi untuk kerajinan,” kata Roma Girsang, salah seorang pengusaha kerajinan Medan yang telah berhasil memasarkan berbagai produknya ke berbagai negara, termasuk Asia, Eropa hingga Amerika.

Roma yang mengelola produk kerajinan dengan merk dagang Rawigi Craft itu memproduksi berbagai kerajinan khas Sumatra Utara, seperti tas bermotif ulos, Batik Ulos dan berbagai asesoris pakaian dan souvenir. Dia juga memanfaatkan kulit hewan untuk produk kerajinan seperti tas dan dompet.

Tidak tanggung-tanggung, produk kerajinan Roma telah bernilai jual, dengan kisaran harga mulai dari ratusan hingga jutaan rupiah. “Ada tas terbuat dari kulit dengan harga Rp 5 juta dan itu khusus ekspor,” kata Roma yang beberapa kali mewakili Indonesia di ajang pameran kerajinan bergengsi di Indonesia, seperti Inacraft, juga pameran di luar negeri.

Menurut Roma, masih banyak peluang yang dapat dimanfaatkan. Hanya saja memang, perlu dukungan atau inkubasi dari berbagai pihak, terutama dalam permodalan dan pembinaan. Sebab, sejauh ini kendala yang kerap dihadapi ialah pemodalan. Dengan adanya MEA 2015, maka pasar yang akan semakin terbuka luas, justru akan menjadi peluang besar yang harus dimanfaatkan.

Dia juga mengharapkan pemerintah, lebih serius mendukung usaha kerajinan yang berpotensi mengangkat perekonomian daerah. “Seharusnya bantuan permodalan dari pemerintah lebih tepat sasaran. Sehingga perajin yang benar-benar berpotensi bisa terangkat,” harapnya.

Dari Fashion ke Startup Kuliner

Masih berhubungan dengan kerajinan, perancang busana Torang Sitorus, juga melihat kekayaan budaya di Sumut menjadi peluang industri kreatif yang menjanjikan. Dengan menggunakan kain bermotif Ulos, Torang mendesain busana modern sehingga membuat Ulos bernilai jual lebih tinggi. Tidak hanya di tingkat lokal, tapi juga di tingkat internasional.

“Selama ini Ulos hanya digunakan untuk adat Batak saja, melalui rancangan ini, saya ingin Ulos lebih bernilai jual dan kelasnya naik,” kata Torang, yang merancang berbagai pakaian untuk kebutuhan busana pesta, kantor dan casual. Menurutnya, upaya seperti ini akan serta merta mengangkat khasanah industri kreatif lokal di secara nasional, bahkan internasional, seperti Batik.

Selain kerajinan dan fashion, industri kreatif lain yang tidak kalah berpotensi, fotografi, bisa dikatakan sub bidang industri kreatif visual art yang cukup hidup di Medan selama lima tahun belakangan. Hal ini dilatari dengan teknologi fotografi digital yang memungkinkan untuk terjun ke dalamnya dengan lebih mudah dibandingkan satu atau dua dekade sebelumunya, dimana teknik fotografi masih sebatas analog yang membutuhkan waktu dan proses belajar lebih lama.

Tidak sedikit yang mengawalinya dari hobi lalu terjun menjadi fotografer profesional. Sebagai berprofesi freelance, dan tidak sedikit membuka studio untuk berbagai kebutuhan dokumentasi foto, seperti pernikahan, food photography, hotel, event maupun korporat.

Peluang ini misalnya dilirik Andi Lubis, mantan jurnalis foto yang memutuskan mengundurkan diri dari perusahaan surat kabar terkemuka di Medan demi mendirikan studio foto, bernama Galeri Cinta. Dari usahanya itu, ia pun “melampiaskan” hasrat enterpreneurship-nya di bidang fotografi. Selain mengerjakan proyek foto pernikahan, ia juga mengerjakan foto untuk berbagai keperluan perusahaan. Dia juga membuka kelas fotografi dan melahirkan sejumlah fotografer baru.

Masih di bidang yang berdekatan, sinematografi mendapat peluang yang tidak kalah menjanjikan. Potensi ini didukung dengan potensi pariwisata yang ada di Sumatra Utara. Menciptakan berbagai produk film dengan memanfaatkan potensi wisata merupakan peluang yang dapat dimanfaatkan, sehingga terjadi efek domino ekonomi. Misalnya pembuatan film pendek maupun dokumenter.

Salah satu sineas Medan, Andi Hutagalung, yang pernah meraih penghargaan sebagai juara pertama Festival Film Dokumenter Bali, tahun 2012 melalui film “Permata di Tengah Danau”, mengatakan tidak sedikit sineas yang berpotensi di Medan. Meksi dengan keterbatasan yang masih ada, misalnya peralatan dan teknik sinematografi, industri film di Medan berpotensi pasar besar. Misalnya dengan membuat film daerah berlatar budaya lokal. Tidak hanya berpotensi menyasar penonton lokal, juga dari luar negeri. Sebab, di dalamnya ada keunikan budaya.

Ponty Gea, produser film Medan pernah melakukannya dengan membuat film daerah berbahasa Batak, berjudul “Anak Sasada”. “Sasarannya penonton yang ada di daerah, dan ternyata penggemarnya besar,” katanya. Film dalam kepingingan VCD itu dia pasarkan secara independen ke sejumlah daerah di Sumut.

Bidang industri kreatif yang tidak kalah menjanjikan ialah startup web solution. Teknologi internet telah menjadi media yang memberi efek ekonomi besar pada salah satu ikon Medan, yakni kuliner. Inilah yang dilihat sejumlah pelaku startup di Medan, sebuat saja Kulinermedan.com dan Dealmedan.com.

Indra Halim, pendiri Kulinermedan.com mengatakan, website yang dia bangun telah menjalin kerjasama dengan berbagai restoran di Medan dan telah memberi manfaat, baik secara ekonomi. “Orang tinggal buka website ini kalau mau cari makanan dan tempat makanan sesuai selera, tempat dan harga di Medan,” katanya. 

Dengan berbagai program promo diskon, tidak sedikit perusahaan kuliner yang menggunakan jasa Kulinermedan.com. “Dari segi income sudah pasti menjanjikan,” katanya. Apalagi Indra juga memanfaatkan media sosial, Twitter dan Instagram dimana kliennya dapat berpromosi. “Sama-sama untung, jualan laku, orang juga tak susah cari tempat makan,” katanya. Saat ini, ada website sejenis yang mencoba mengangkat potensi Medan, sebut saja antara lain blog review kuliner Makanmana.net maupun blog kopi Sumatra Kopibrik.com.

Menurut Indra, teknologi Internet memiliki peran yang sangat besar untuk dimanfaatkan untuk mengangkat potensi yang ada di Medan, terutama dalam industri pariwisata, juga bidang Usaha Kecil Menengah (UKM). Dia pun berharap, potensi ini tidak didiamkan oleh pemerintah, sementara saat ini berbagai perusahaan telah meliriknya sebagai pangsa pasar yang menjanjikan. Misalnya, Telkom Indonesia yang telah mendirikan Digital Lounge di Jalan Dr. Mongondisi No. 6 Medan, sebagai wadah para pelaku startup di Medan.

Hanya saja, semua itu pun harus ditopang dengan keseriusan pemerintah. Selain pembinaan (mentorship), dukungan permodalan, juga harus disiapkan dengan infrastruktur, misalnya jangan ada lagi pemadaman listrik.

Hal itu seperti dikatakan Ketua DPD Asosiasi Pelaku Pariwisata Indonesia (ASPPI) Sumut, Maruli Damanik, pemadaman listrik tentu telah mengurangi kreatifitas. “Jika pemadaman terus terjadi, bisa dibayangkan berapa banyak waktu yang terganggu. Internet tiba-tiba putus karena listrik padam, dan urusan surat menyurat via email pun terganggu. Transaksi pun terganggu,” katanya.

Senada dengan Franky Pandana, dia optmis Medan memiliki potensi yang seharusnya tidak dianggap sepele. “Potensi wisata kita kaya, dan itu bisa dimanfaatkan untuk pertumbuhan ekonomi kreatif, yang paling berkaitan dengan pariwisata misalnya kerajinan,” katanya.

Satu hal lagi, seperti dikatakan Fatharia Damanik, industri kreatif Medan akan semakin kuat apabila terjalin koneksi interlink yang solid dan saling bersinergi. “Ini kan sebenarnya seperti satu mantai rantai yang tidak boleh putus. Satu komunitas kreatif dengan komunitas kreatif lain harus saling ketemu. Ide dan wacana pun akan berkembang,” katanya.

Dengan gambaran potensi industri kreatif yang kini telah berjalan di Medan, maka MEA 2015, bukanlah momok yang menakutkan, melainkan kesempatan yang memberi potensi besar bagi perekonomian Medan. “Tinggal bagaimana para pelakunya bersinergi, dan tentunya dukungan media publikasi juga berperan,” kata Fathra.