Artikel ini adalah Juara II Kompetisi Menulis Artikel (KoMA) 2014

Karya : Arianda Tanjung

Media : Harian Waspada

Judul : Mbak Rahma dan Industri Kreatif

 

Mangrove. Bagi kebanyakan masyarakat hanya dianggap hutan yang tumbuh di atas rawa  berair payau yang terletak pada garis pantai dan dipengaruhi oleh pasang-surut air laut, serta berfungsi melindungi garis pantai dari abrasi atau pengikisan.

Namun bagi LSM Yagasu lewat warga binaanya Rahmawati, mangrove tidak hanya sekadar penjelasan seperti di atas. Mbak Rahma sapaan akrabnya, yang sehari-hari juga berprofesi sebagai pegawai di Yagasu justru ‘menyulap’ mangrove menjadi industri kreatif yang menghasilkan rupiah.

Lebih tepatnya, mangrove yang selama ini dianggap ‘sebelah mata’ keberadaannya diolah menjadi bahan pewarna batik alami yang tidak dicampur dengan bahan kimia apapun. Memang pengolahan mangrove ini bukan tanpa alasan, melainkan agar masyarakat mau ikut berperan serta dalam pelestarian mangrove yang dinilai lebih mudah jika dilakukan dengan pendekatan ekonomi.

Bersama para warga binaan lainnya setiap Senin hingga Jumat, Mbak Rahma secara produktif membuat batik yang berbahan dasar pewarna organik di kantornya yang beralamat di Jl Sei Kuala Medan. Memang karena masih dilakukan dengan cara yang terbilang sederhana yakni mencanting, maka produksi yang dihasilkan pun tidak terlalu banyak.

Saat penulis berkunjung sembari berbincang di kediamannya di Desa Tanjung Rejo Kec. Percut Sei Tuan Kab. Deliserdang, dirinya banyak bercerita dari awal merintis hingga bercita-cita untuk mengembangkan industri kreatif yang sudah dua tahun dijalaninya ini. Hari itu, Sabtu (13/12), penulis ternyata juga berkesempatan melihat langsung proses pencantingan, karena Mbak Rahma bertepatan sedang mengerjakan sebuah selendang batik.

“Sebelumnya saya pernah menjalani pelatihan tentang produksi batik yang digelar LSM Yagasu selama sepuluh hari di Jakarta, materi yang diberikan pun beragam mulai mencanting, membuat pola, dan mencari tahu tanaman apa saja yang bisa dijadikan bahan pewarna organik untuk batik. Setelah selesai pelatihan saya langsung mempraktikkannya dan mulanya memang yang dipakai akar mengkudu sebagai bahan dasar pewarna, hasilnya juga cukup baik hanya saja kurang diminati,” terangnya.

Sementara penggunaan mangrove, kata Rahma, terjadi karena ketidaksengajaan. “Suami kan senang menangkap kepiting di hutan mangrove dan setiap pulang saya selalu menemukan getah mangrove yang menempel di baju. Setelah diamati ternyata warnanya bagus juga untuk pewarna, mulai saat itulah saya minta kepada suami untuk membawa pulang beberapa kayu mangrove untuk diolah dan hasilnya alhamdullilah cukup bagus,” ujar Rahma.
 Wanita kelahiran 29 tahun ini lantas terus mengembangkannya, karena dinilai sangat direspon masyarakat. Untuk pembuatannya memang  agak lama, dari proses pengolahan hingga menjadi pewarna organik menghabiskan waktu satu harian dan selanjutnya harus didiamkan terlebih dahulu selama dua hari agar pewarna bisa lengket ke kain.

“Sekilas tidak ada yang terlihat beda dengan batik lainnya, tapi kalau diikuti proses pembuatan batik itu dari awal sampai selesai maka akan tahu letak keistimewaannya. Apalagi jika dilihat dengan baik, warna yang memakai pewarna organik terlihat lebih kilat dan untuk warna juga tidak bisa ditentukan mengingat setiap kayu memiliki warna yang berbeda,” tambahnya.

Dikatakan, untuk masalah produksi tergantung tingkat kesulitan motif. Biasanya kalau motifnya sulit seperti gorga dan melayu hanya diproduksi empat buah selama satu minggu, tapi kalau motifnya biasa saja bisa mencapai 10 buah.  “Harga juga cukup mahal untuk selendang bisa dihargai Rp 700 ribu hingga Rp 1 juta, sementara untuk kain yang akan dibuat baju bisa mencapai Rp 2,5 juta hingga Rp 4 juta per buah. Batik ini juga sudah didistribusikan melalui pameran di beberapa kota besar di Indonesia seperti Sumatera Utara, Aceh, Sulawesi Utara, Sumatera Barat, dan Kepulauan Riau,” katanya.

Keuntungan lain dari industri ini, tambah Rahma, proses perebusan kayu tidak menggunakan Bahan Bakar Minyak (BBM) karena kualitas pewarna organiknya justru menurun. “Sehingga selama ini pengolahan dilakukan hanya dengan menggunakan kayu bakar saja. Jadi mau naik atau turun harga BBM tidak terlalu berpengaruh untuk pembuatan batik mangrove ini,” kata Rahma. Saat ditanya tentang akan diberlakukannya Masyarakat Ekonomi Asean (MEA) pada Januari 2015 mendatang. Rahma justru menyambut baik dan optimis, karena menilai Indonesia memang sudah saatnya harus bersaing dan caranya dengan meningkatkan industri kreatif guna bersaing di pasar bebas MEA. "Industri kreatif sebagaimana berkembang di berbagai negara, secara empiris mampu tampil sebagai pendorong bagi pertumbuhan ekonomi, termasuk industri berbasis budaya. Apalagi industri kreatif berbasis budaya memiliki potensi untuk bersaing secara ekonomi dengan melibatkan banyak para pelaku usaha, salah satunya industri batik dengan pewarna organik ini,” tegasnya.

Memang, industri kreatif masih sangat kecil sebagai penyumbang dalam perekonomian, tapi dipastikan mampu bertahan disaat krisis. “Bidang usaha dari industri berbasis budaya seperti jamu dan minuman tradisional, kerajinan tangan, kain tradisional, makanan dan kuliner khas daerah, cara pengobatan tradisional serta seni musik dan tari khas daerah terbukti masih bisa bertahan hingga saat ini,” pungkasnya. Memang keberhasilan ini harus disokong oleh semua pihak termasuk pemerintah. Keberpihakan pemerintah inilah yang diyakini akan menjadi titik tolak dari meningkatnya kecintaan terhadap produk dalam negeri yang menimbulkan permintaan bertambah, yang diiringi oleh kesinambungan proses produksi dan akhirnya mengacu pada pendapatan negara dari sektor industri berbasis budaya untuk peningkatan kesejahteraan bagi para pelaku usaha kecil dan menengah, menuju MEA 2015. Untuk itu diperlukan perhatian khusus bahwa usaha pembangunan ekonomi masih perlu untuk terus ditingkatkan, agar memiliki daya tahan hidup yang tangguh. Industri berbasis budaya merupakan pengembangan yang diharapkan dapat terbentuk pembangunan karakter bangsa, menghargai budaya bangsa untuk kemudian diaplikasikan dalam kehidupan keseharian dan diperkenalkan kepada dunia sekaligus mampu meningkatkan pertumbuhan ekonomi. Maju terus industri kreatif Kota Medan!!