Artikel ini adalah Juara I Kompetisi Menulis Artikel (KoMA) 2014

Karya : Dedy Hutajulu

Media : Harian Analisa

Judul : Hushus Land: Identitas Adalah Kekuatan

 

“Saya ini desainer bukan penjual kaos. Saya tidak akan pergi sekolah jauh-jauh ke ITB hanya untuk jualan kaos,” tegas Riyanthi Sianturi pemilik brand Hushus Land.

SATU ketika saya diberi bingkisan oleh seorang sahabat. Bingkisan itu berupa kaos. Di bagian dada, ada gambar nelayan menjaring ikan di atas solu (sampan). Nelayan itu berjibaku di tengah tao (Danau Toba). Di bagian punggung tertera tulisan kecil "Hushus Land."

Kaos ini mengingatkan saya kehidupan ayah sebagai partoba (nelayan). Saya jadi penasaran, apa itu Hushus Land?

Riyanthi Sianturi (29) si pemilik merk bilang Hushus Land adalah identitas. Hushus Land didesain membawa kenangan bagi orang-orang yang pernah tinggal dan tumbuh besar di tempat-tempat dan waktu tertentu. "Sering teman-teman saya menanyakan hushus itu apa? Terdengar seperti kata-kata untuk mengusir sesuatu. Tentu saja salah besar," terangnya.

Hushus itu, terangnya, sebuah kata dalam Bahasa Batak yang artinya harum, wangi. Kata hushus biasa dibaca huccus atau hussus. Jika diterjemahkan secara keseluruhan, Hushus Land maksudnya tanah yang harum/wangi.

Istilah ini bukan merujuk ke Tanah Batak semata, tetapi dimaksudkan juga Tanah Air Indonesia yang harum.

Menurut Riyanthi, Hushus Land bukan sekadar kaos. Tetapi produk yang lahir atas sentuhan cinta dan kenangan manis tentang Tao, tentang Huta, Tanah Batak dan tentang Indonesia. Butiran gagasan unik melekat dalam balutan desainnya. Hushus land dirancang menjadi kaos bertutur.

 

Hushus Land adalah kenangan. Kenangan akan tanah kelahiran, kenangan masa kecil dan kenangan atas tanah air tercinta. Riyanthi ingin Hushus Land seperti bertemu kembali dengan sang mempelai yang menyuarakan cintanya di kala rindu menyesak. Setiap desain yang diciptakannya lahir dari proses panjang. “Kadang saya butuh berbulan-bulan untuk menyelesaikan satu desain,” tutur gadis yang tengah studi master bidang desain di Institut Teknologi Bandung (ITB) itu.

 Tidak Jual Kaos

“Sebenarnya, saya tidak menjual kaos. Saya menjual desain. Menjual identitas. Makanya saya rela melacak dulu sejarahnya, sebelum saya bikin sebuah desain. Bila ide (desain) itu sudah ada, saya telusur lagi di internet, apakah ada gagasan yang sama? Saya harus pastikan desain saya tulen,” kata Riyanthi.

Tema desain yang diangkat Riyanthi tidak pernah jauh dari kehidupannya. Danau Toba dan masyarakat Batak. Dia jatuh cinta dengan tema ini sejak kecil. Cinta itulah yang mendorong Riyanthi rela bolak-balik melacak sejarah panjang sebuah fenomena, kisah dan risalah budaya.

 Ia berjuang membaca sejumlah referensi agar memahami secara bening nilai sebuah budaya sebelum ia menggarap sebuah desain. Ia tak ingin terburu-buru. Ia tak ingin pikirannya disetir oleh hasrat pasar, karena pertaruhannya: cinta dan kenangan, bukan laba!

Tak heran jika produk-produk Hushus Land terasa bernyawa, berdaya gugah dan bergaya. Ia adalah pengejawantahan ide. Kaos hanyalah medium. “Pada dasarnya saya desainer, yang dalam visi ke depan, tak hanya sekadar memakai medium kaos. Kaos hanya salah satu cara memasarkan desain dan memperkenalkan brand, yang bisa menjangkau khalayak banyak. Ini sangat baik sebagai permulaan, sebelum memperluas produksi karya desain dalam bentuk lain,” katanya.

Maka bermain di ranah cerita dalam desain adalah pilihan Riyanthi. Ia meyakini sebuah desain yang bagus ampuh membangkitkan kenangan yang mengaduk-aduk perasaan. Kenangan itu akan membangunkan kembali harapan. Kenangan itu serasa sangkakala yang dibunyikan, memanggil untuk menjenguk kembali kampung halaman. Kenangan itu seperti mercu-suar yang menuntun kembali kepada jalan pulang menuju identitas kita sebagai bangsa yang besar, bangsa yang berbudaya.

Lantas, dengan medium kaos, peluang seperti apa yang dilihat Riyanthi ? “Ada dua celah peluang yang saya lihat,” sahutnya. Apa itu?

Celah pertama, sebagian besar manusia senang menunjukkan identitasnya, terutama pada orang-orang yang berada di tanah rantau, jauh dari kampung halamannya. Tentu saja termasuk orang Batak. Ada saat-saat orang-orang ingin menunjukkan siapa dia, dari mana asal daerahnya, apa yang khas dari daerahnya.

Ini jelas hal mendasar sekali, tetapi menjadi peluang besar. Identitas yang ingin ‘dipamerkan’ harusnya berkualitas, supaya yang pamer tidak malu. “Saya ingin memenuhi kebutuhan akan identitas ini. Maka saya pun bikin desain yang baik dan menarik yang kemudian dibubuh pada kaos dengan kualitas bahan terbaik juga,” katanya.

Celah berikutnya, potensi wisata. Riyanthi melihat, belum banyak potensi-potensi wisata yang diterjemahkan ke dalam bentuk kaos dengan desain menarik. “Ini satu hal yang ingin saya balik. Kaos bertema wisata tak hanya jadi oleh-oleh, tetapi harus sekaligus alat promosi mujarab,” tandasnya.

Sebagai alat promosi, tentu saja motif Danau Toba dan lain-lain menjadi menarik. Namun sesungguhnya ada sesuatu yang mendasari. Rupanya, sang desainer lahir dan besar di kampungnya, di lembah Silindung yang kental dengan budaya Batak. Ketika kuliah dan bekerja, Riyanthi semakin dekat dengan Danau Toba. Dan danau itu terbentang di halaman rumah-rumah warga.

Kecintaannya terhadap Danau Toba dan budaya Batak makin membesar saat ia kerap jalan-jalan dan memotret di kawasan Toba. Ketika ia menempuh studi di ITB, ia belajar banyak bagaimana kekuatan sebuah desain dalam memperkenalkan budaya bagi dunia demi kemajuan bangsa.

Riyanthi melihat, Danau Toba bukan saja milik orang Batak, tetapi juga milik Bangsa Indonesia. Danau Toba bahkan dahulu sangat mempengaruhi peradaban manusia di muka bumi. “Maka, biarlah Danau Toba kita nikmati bersama, kita cintai bersama, kita majukan bersama dan kita promosikan bersama,” ajaknya.

Tentang Danau Toba, tentu ada banyak produksi kaos dengan tema tersebut. Lantas dimana perbedaannya dengan karya Riyanthi ? “Selalu ada sejarah dari setiap desain yang saya ciptakan. Saya selalu menyertakan cerita pada setiap kaos,” sahutnya.

 Cerita inilah yang dibagikannya kepada calon pembeli untuk membangkitkan kenangan. Sebagai contoh desain kaos Come To Lake Toba. Iaterinspirasi ketika ia mengambil gambar seorang anak laki-laki yang sedang marsolu (mengayuh sampan). Anak laki-laki dan beberapa temannya sedang berenang dan bermain di Danau Toba yang airnya sejuk.

“Saya melihat keceriaan di wajah mereka ketika menceburkan diri dan berenang berkejaran, dan saat menyaksikannya saya pun turut merasa senang. Saya membayangkan semangat mendayung solu (sampan), keceriaan anak-anak bermain di Tao, seharusnya bisa menjadi milik semua orang, jika datang ke Danau Toba. Maka terciptalah ide desain Come to Lake Toba dengan gambar seorang anak mengayuh solu,” jelasnya.

Demikian juga dengan kaos “Unforgettable Pinlo” yang banyak mengundang haru dan tawa. Ide desain kaos muncul ketika mengingat masa kanak-kanak dan bersekolah di kampung. Mayoritas masyarakat memiliki investasi atau ‘celengan hidup’ dalam bentuk ternak babi.

“Saya tidak membicarakan tentang barang halal atau haram, tetapi ternak sebagai komoditas ekonomi, tabungan penyambung masa depan. Bagi sebagian anak yang pernah ikut serta beternak babi, pastilah masih ingat masa-masa cemburu kepada ternak babinya, karena orang tuanya sering lebih memberi perhatian lebih kepada ternak babi daripada anaknya sendiri. Sebut saja ketika pulang dari ladang, siapakah yang pertama sekali ditanyakan kabarnya? Tentu saja babi. “Nunga mangan pinahan?” (Apakah babi sudah diberi makan?),” tuturnya.

Kedengarannya sepintas mengerikan. Sepertinya orangtua tidak sayang pada anaknya ketika orangtuanya bukannya menanyakan apakah anaknya sudah makan atau belum. Tetapi tidak! Justru karena kasih sayangnya, ternak itu harus bertumbuh dengan sehat, agar jika sudah masanya untuk dijual, hasil penjualannya tentu saja dipakai untuk membiayai keperluan si anak.

Hal-hal semacam itulah yang terus digali, dimaknai dan diterjemahkan Riyanthi ke dalam desainnya. Nilainya akan terasa berbeda, karena pembeli tidak hanya sekadar membeli kaos, tetapi membeli karya seni bernilai tinggi.

Keunikan usaha yang kini digeluti Riyanthi adalah kemandiriannya. Sampai saat ini, ia mengerjakan desain kaos sendiri, mulai dari mencari ide, penentuan warna dan model kaos. Bahkan untuk proses distribusi, ia percaya pada kekuatan jejaring. Ia membangun pertemanan seluas-luasnya, memberdayakan fungsi media jejaring sosial dan memanfaatkan internet dalam rangka promosi desain secara online. Secara fisik, ia tidak punya toko, tetapi ia mampu membumikan desainnya dengan baik.

Riyanthi konsisten memproduksi kaos dengan menggunakan bahan baku buatan Indonesia. Itu sekaligus kampanye penggunaan produk-produk lokal dan kebanggaan terhadap produk Indonesia. Kaos yang telah selesai diproduksi dipasarkan secara online melalui website www.hushusland.tobajourney.com dan media sosial facebook.

Sampai saat ini, cara penjualan ini cukup efektif. Untuk meningkatkan pendistribusiannya, tahun depan Riyanthi berencana membuka mobile store, toko yang dapat berpindah-pindah. Tujuannya, untuk menjangkau berbagai tempat wisata dan event-even budaya di tempat berbeda.

Saat ini, kaos Hushus Land tidak hanya terjual di daerah Danau Toba atau Tanah Batak, tetapi telah menjangkau berbagai daerah di Nusantara bahkan luar negeri. Sejumlah koleganya di Jerman, Belanda dan Inggris, dengan bangga menggunakan kaos Hushus Land. Untuk daerah Indonesia sendiri, penyebarannya sebagian besar di Sumatera dan Jawa, tetapi telah merambah juga ke daerah lain seperti Bali dan Nusa Tenggara.

Riyanthi menuturkan ada rasa bahagia besar yang ia dapatkan dalam proses menjual/mendistribusikan kaos-kaos Hushus Land. “Ada kepuasan tersendiri ketika menyaksikan para pembeli dengan bangga memakai kaos Hushus Land, seperti saya berhasil mempertemukan kaos Hushus Land dengan tuannya yang baru. Yang paling mengharukan, ketika seorang pembeli langsung bersorak girang saat bertemu kaos “Unforgettable Pinlo”, dia mengatakan ‘Aku beli kaosnya, ini pas sekali, mamakku jualan babi, dari situ kami bisa sekolah’. Saya langsung merasa berbunga-bunga,” terangnya.

Subatrio Saragih, seorang pengguna kaos Hushus Land terkesima dengan desain kaos tersebut. Ia tergila-gila dengan kedalaman ide di dalamnya. “Saya melihat desain gambar dan kaosnya penuh nilai-nilai budaya. Ada kenangan yang saya ingat. Saya suka sekali. Kaos beginian belum pernah saya temukan,” katanya. Saragih bekerja di Jakarta. Ia memesan kaos via online.

Berpikir Global Bertindak Lokal

Erix Hutasoit memuji kualitas Hushus Land. Ia mengatakan Riyanthi sangat cerdas menggunakan pengetahuan dan keterampilan komunikasi visualnya untuk menjangkau orang-orang Batak di perantauan. Desain-desain unik Hushus Land membuat orang-orang merasa terhubung secara emosi. “Sulit sekali mendapatkan produk berkualitas yang mampu menggambarkan kehidupan di tanah kelahiran kita,” tambahnya.

Pria yang pernah tinggal di Birmingham, Inggris ini menyebut Riyanthi sebagai contoh pekerja kreatif yang baik. Visi seperti yang Riyanthi tunjukkan, dibutuhkan pekerja kreatif Indonesia. Visi seperti ini penting untuk menghadapi Masyarakat Ekonomi Asean (MEA) 2015 nanti. MEA membuat batas-batas geografis antar negara menjadi sekadar administrasi. Barang dan jasa dapat hilir mudik tanpa hambatan berarti. Arus besar ini bakal mengubah nasib hidup jutaan orang Asia Tenggara, termasuk para pekerja kreatif.

Erix mengkritik mental copy-paste pekerja kreatif Indonesia, khususnya di Sumatera Utara. Mental copy-paste yang dimaksud Erix, merujuk pada banyaknya produk bajakan yang dijual secara massal. Produk-produk itu menjiplak desain-desain yang sudah ada. “Kalaupun ada perubahan desain, itu hanya mengubah sedikit-sedikit. Menjiplak itu membunuh kreativitas,” tutur ahli komunikasi di lembaga research yang berbasis di North Carolina, Amerika Serikat (AS) itu.

Menurut Erix, kebiasaan menjiplak desain dapat berujung tuntutan hukum. Setiap desain yang telah dipatenkan, tidak dapat ditiru dan disebar-luaskan tanpa seizin pemilik hak paten. “Kita akan memasuki dunia yang terkoneksi. Pekerja kreatif tidak lagi bisa bersembunyi kalau ia mencuri ide. Karena itu pekerja kreatif kita harus perduli dengan orisinalitas produk. Agar orisinil, pekerja kreatif kita baiknya fokus pada kekuatan yaitu identitas lokal kita,” katanya.

Erix mendorong para pekerja kreatif mulai berpikir global. Pekerja kreatif harus memanfaatkan ilmu, keterampilan, teknologi modern dan jejaring global. Perkembangan ilmu, keterampilan dan teknologi modern dapat membantu pekerja kreatif menghasilkan produk-produk yang lebih berkualitas. “Berjejaring global itu sangat penting. Bukan soal memperluas pasar, tetapi juga belajar memahami isu-isu terbaru soal dunia ekonomi kreatif. Di tengah ancaman perubahan iklim yang ekstrim misalnya, pekerja kreatif juga ditantang membuat produk yang ramah lingkungan,” tuturnya.

Pemilik situs perjalanan kemanaaja.com, Eka Tarigan mengatakan Industri kreatif bisa bertahan dan berjaya, jika pelaku bisnis industri kreatif kaya inovasi dan punya keterampilan membangun jejaring. Pelaku industri kreatif memerlukan bersinergi dengan komunitas lain. Antar komunitas industri kreatif tidak perlu merasa komunitas lain sebagai kompetitor/pesaing, tetapi mitra bisnis yang saling bersimbiosis mutualisme. “Kemitraan bisa menjadi kekuatan besar bagi pelaku industri kreatif,” tegasnya.

Selain ahli berinovasi, industri kreatif juga mesti kuat dalam konsep. Memiliki konsep kuat menjadi syarat utama seorang pelaku industri kreatif. Pelaku-pelaku industri kreatif dituntut mampu menggali dan beraksi di level lokal, tetapi berpikir global. Pengetahuan yang luas, pengalaman yang banyak, mesti disintesa dengan tuntutan perkembangan zaman.

"Sebab, seorang yang berani menjajal produknya ke ranah industri, ia mesti mampu mengelola semua sektor, mulai dari ide, konsep, strategi manajemen distribusi, strategi promosi, sekaligus mutu suatu produk," ujarnya.

Kesimpulannya, jika ingin bersaing dalam pasar MEA, maka pekerja kreatif di Indonesia harus bermutu.