Kelam dan angin lalu mempesiang diriku; menggigir juga ruang di mana dia yang ku ingin

Malam tambah merasuk, rimba jadi semati tugu

Di karet...di karet...daerahku yang akan datang sampai juga deru angin

Aku berbenah dalam kamar, dalam diriku jika kau datang dan aku bisa lagi lepaskan kisah baru padamu

Tapi kini hanya tangan bergerak lantan, tubuhku diam dan sendiri, cerita dan peristiwa berlaku beku

Lahir di Medan, 22 Juli 1922, Chairil Anwar adalah anak tunggal pasangan Toeloes dan Soleha, keduanya berasal dari Sumatera Barat. Ayahnya pernah menjabat sebagai Bupati Inderagiri, Riau.

Chairil Anwar mengenyam pendidikan di Hollandsch-Inlandsche School (HIS), sekolah dasar untuk orang-orang pribumi pada masa penjajahan Belanda, lalu meneruskan ke Meer Uitgebreid Lager Onderwijs (MULO). Keinginan menjadi seniman telah muncul dalam dirinya sejak muda, seperti isi suratnya kepada HB Jassin yang berisikan: “..Aku memasuki kesenian dengan sepenuh hati. Tapi untunglah bathin seluruh hasrat dan minatku sedari umur 15 tahun tertuju ke titik satu saja, kesenian”

Sebagai seorang seniman, Chairil Anwar dinilai sebagai salah satu penggagas otensitas manusia Indonesia modern. Dia membebaskan ejaan bahasa Indonesia dan aturan lama yang mengekang menjadi bahasa yang lebih terbuka. Dia juga pelopor revolusi bentuk puisi, dimana pengucapan batin puisi jauh lebih penting disbanding bentuk fisiknya. Chairil Anwar menjadi bernilai karena mampu menggambarkan kejiwaan manusia dalam karyanya.

Usaha Chairil Anwar yang lain adalah menyiarkan bahwa puisi adalah milik semua orang. Puisi tak harus selalu menceritakan ‘yang besar’ ‘yang sakral’ dan ‘yang agung’. Jiwa kita dan segala riak-gejolak yang menyerempetnya adalah sumber ide yang hakiki.

Di balik nama besar, tersimpan satu cerita kehidupan pribadinya yang mempertegas keliaran jiwa dan gagasannya sebagai seorang seniman. Dia tak mau dikekang hingga dijuluki Binatang Jalang.

Chairil Anwar besar dan wafat dalam kehidupan yang tidak teratur. Dia dikenal sebagai orang jorok, penyakitan, suka keluyuran, sulit ditebak, dan tak punya pekerjaan tetap. Realitas yang membuatnya berbeda dari sastrawan lain seperti Sanusi Pane, Amir Hamzah, dan M.Yamin yang makan sebagai redaktur majalah atau politisi.

Dia sering jalan sendirian dengan pakaian yang kumal, rambut yang asal, mata yang merah, dan buku tebal dikepit di tangan. Membuatnya terkesan sangat urakan.

Dulu, Chairil Anwar dimanja orangtuanya. Dia bukan orang yang biasa hidup dalam perjuangan karena selalu mendapat fasilitas terbaik berkat kedudukan sang ayah. Akhirnya, timbul sifat pantang kalah dalam dirinya, baik persaingan maupun dalam mendapatkan keinginan hati, seperti dituliskan sahabat masa kecilnya, Sjamsulridwan. Keinginan dan hasrat untuk mendapatkan itulah yang menyebabkan jiwanya selalu meluap-luap dan tidak pernah diam. Dia juga cerdas dan menjadi kesayangan guru-guru, serta percaya diri terutama dalam diskusi-diskusi.

Sjamsul Ridwan mengatakan, Chairil Anwar adalah sosok pemberani, keras tapi memiliki rasa ingin tahu yang besar. Meskipun agak tinggi hati dan sombong, dia termasuk orang yang pintar bergaul dan berteman dengan segala golongan. Hanya saja, dia banyak mendapatkan pengalaman emosional yang kurang baik dalam keluarga. Perceraian orangtua membuat kehidupan Chairil Anwar berubah terutama setelah memasuki masa remaja.

Nasjah Djamin, sastrawan seangkatan Chairil, lewat buku Hari-hari Akhir Si Penyair karangannya, menyebut Chairil Anwar layaknya tokoh Anwar yang sembrono dan kurang ajar dalam roman Achdiat Kartamihardja, Atheis. Kehidupan Chairil selama berkesenian dan gaya bohemian, menurut Nasjah, seolah ingin keluar dari kemapanan hidup yang dilakoni.

Dalam setiap perkumpulan sesama seniman, Chairil selalu menjadi pusat perhatian karena sering berulah aneh dan terkadang menjengkelkan. Dia juga dikenang sebagai seorang yang suka foya-foya dan boros sampai sering meminjam uang dari pelukis Baharudin dan HB Jassin. Dia pun sering numpang makan di rumah Suharto, kawannya sejak di Medan.

Semasa hidup, Chairil Anwar dikelilingi banyak wanita karena ketampanan wajahnya. Tercatat nama Ida, Sri Ayati, Gadis Rasyid, Mirat dan Roosmeini sebagai gadis yang dikejar-kejar Chairil Anwar. Semua nama gadis itu bahkan masuk ke dalam puisi-puisinya. Namun, kepada gadis Karawang bernama Hapsah, yang menjadi lakon puisinya buat H, dia mengakhiri pencariannya. Mereka dikaruniai seorang putri yang diberi nama Evawani Alisa.

Sayang, pernikahan Chairil Anwar dan Hapsah hanya bertahan sekitar 1 tahun. Kesulitan ekonomi dan gaya hidup menjadi penyebab. Chairil Anwar tak mau kerja tetap, tidak suka terikat, dan hanya fokus pada mengarang dan membaca sepanjang hari. Hapsah pun minta pisah. Saat anaknya berumur 7 bulan, Chairil Anwar menjadi duda.

Chairil Anwar adalah sastrawan besar yang tak berumur panjang. Sebelum berusia 27 tahun, sejumlah penyakit menimpanya. Dia meninggal dalam usia muda di Rumah Sakit CBZ (sekarang Rumah Sakit Dr. Cipto Mangunkusumo) Jakarta pada April 1949. Penyebab kematiannya tidak diketahui pasti, tapi katanya lebih karena penyakit TBC.

Dia dimakamkan sehari kemudia di Taman Pemakaman Umum Karet Bivak, Jakarta. Upacara pemakamannya mendapat perhatian besar dari masyarakat. Dalam upacara itu, pamannya, Sutan Syahrir, berpidato ‘Dengan gaya hidupnya yang serba aneh itu, Chairil Anwar adalah penjuang revolusioner Indonesia’.

Kini makamnya kerap diziarahi ribuan pengagum dari masa ke masa. Kritikus Indonesia asal Belanda A Teeuw, menyebutkan ‘Chairil Anwar menyadari akan mati muda, seperti tema menyerah yang terdapat dalam puisinya Jang Terampas dan Jang Putus’ dan Karet Bivak adalah kuburan yang telah dinujumkan oleh Chairil Anwar sendiri melalui puisinya.

Selama hidupnya, Chairil Anwar telah menulis sekitar 94 karya, termasuk 70 puisi. Kebanyakan tidak dipublikasikan hingga kematiannya. Puisi terakhirnya adalah berjudul Cemara Menderai Sampai Jauh, ditulis pada tahun 1949. Karyanya yang paling terkenal berjudul Aku dan Krawang Bekasi.

Semua tulisannya, baik yang asli, modifikasi, atau yang diduga diciplak dikompilasi dalam tiga buku yang diterbitkan oleh Pustaka Rakyat. Mulai dari Deru Campur Debu (1949), kemudian disusul oleh Kerikil Tajam Yang Terampas dan Yang Putus (1949), dan Tiga Menguak Takdir (1950, kumpulan puisi dengan Asrul Sani dan Rivai Apin).