Bandung, Solo, Pekalongan, dan Yogyakarta didaftarkan Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Parenkraf) menjadi kota kreatif kepada UNESCO (Badan PBB bidang pendidikan, ilmu pengetahuan, dan budaya). Empat kota itu dipilih karena dinilai maju dalam seni, industri kreatif, dan desain.

Bandung dan Solo masuk dalam kota berbasis desain, sedangkan Pekalongan dan Yogyakarta kota berbasis kerajinan dan kesenian rakyat. Jika usulan Kementerian Parenkraf diterima, maka 4 kota tersebut akan masuk ke dalam jaringan The Creative Cities Network UNESCO.

The Creative Cities Network bertujuan membangun kerjasama di sektor industri kreatif dan pariwisata kreatif antar anggota yang sejalan dengan program pembangunan berkelanjutan berbasis kebudayaan UNESCO. Sampai saat ini ada 41 kota di dunia yang menjadi anggota The Creative Cities Network dalam 7 subsektor industri kreatif.

The Creative Cities Network adalah peluang bagi kota-kota di Indonesia dalam pembangunan dan pengembangan ekonomi kreatif. Di samping menjadi daya dorong pelestarian kebudayaan dan kearifan lokal. Peluang-peluang ini pula yang mendorong Kementerian Parenkraf mempersiapkan Bukit Tinggi, Malang, Surabaya, Denpasar, dan Makassar untuk diajukan kemudian.

Lantas, bagaimana dengan kota kita tercinta Kota Medan ?

Banyak sekali sebenarnya yang harus diperbaiki, mulai dari tata ulang bahkan sampai pembangunan untuk membuat Kota Medan diusulkan menjadi The Creative Cities Network. Berikut beberapa permasalahan yang harus dipecahkan oleh pemerintah Kota Medan.

Untuk menjadikan Medan sebagai kota kreatif, perlu sinergi antara Pemerintah Kota (Pemko), masyarakat, dan lembaga budaya. Ketiganya perlu bertemu menyatukan visi dan bergerak bersama untuk mewujudkan visi tersebut. Medan memiliki potensi sebagai kota kreatif. Dari sisi sumber daya manusia, komunitas kreatif di Medan tak kalah dengan di Bandung dan kota-kota lain. Begitu pun dari segi produktivitas. Medan juga memiliki situs sejarah dan keragaman budaya sebagai nilai jual.

Pemko Medan harus berdiri paling depan dalam pengelolaan potensi kota untuk menjadikan kreativitas sebagai industri yang menghidupi para pelakunya. Dalam amatan kita, sektor ekonomi kreatif yang bisa diandalkan secara ekonomi di medan hanya kuliner.

Untuk seni pertunjukan, kegiatan pementasan pun dilakukan secara swadaya. Honorarium dalam setiap pementasan hanya sebagai apresiasi bukan sebagai sumber penghasilan. Kurangnya perhatian dan kurangnya dukungan dari masyarakat Kota Medan adalah salah satu penyebab nya. Hal ini pula yang menyebabkan kurangnya pementasan seni pertunjukan budaya di Kota Medan yang jauh berbanding terbalik dengan kota lain di Pulau Jawa.

Hal serupa dialami di sektor film dan video. Produktivitas memproduksi film-film berbahasa daerah diwujudkan dengan jalan yang tidak mudah. Beberapa home industry harus memenuhi sendiri biaya produksi yang bisa mencapai 200 juta untuk 1 judul film. Bahkan, untuk honorarium pemain dan kru pun baru dibayar setelah film beredar. Ke depan diharapkan ada keperdulian pemerintah daerah dan dukungan sponsor terhadap film-film lokal. Bila mengharapkan home industri seperti yang selama ini dilakukan, sangatlah sulit apalagi untuk melangkah ke nasional.

Langkah awal yang bisa dilakukan Pemko Medan dalam pembangunan industri kreatif adalah penyediaan ruang terbuka untuk menggali potensi ekonomi kreatif masyarakat Medan. di kota lain, ada banyak taman tempat berkumpul seniman seperti pelukis atau pemusik, juga toko-toko souvenir lokal dan tempat-tempat makan yang otomatis menghidupi masyarakat setempat. Ada banyak celah yang bisa dimanfaatkan. Sayangnya, wadah untuk menampung kreativitas anak-anak muda di Medan masih kurang. Jadinya, anak-anak kreatif main sendiri-sendiri.

Pergerakan ekonomi kreatif sesungguhnya bukan hal baru di Medan. awal tahun 2000-an banyak anak-anak muda Medan yang secara idealis terjun ke sektor ini. Mengusung semangat independen, mereka bergiat di musik, penerbitan, event organizer, dan clothing line. Namun, mereka umumnya jalan sendiri-sendiri. alhasil, ada yang mampu terus berjalan karena berhasil membentuk pasar, tak sedikit pula yang padam

Lain hal nya pula dunia musik di Kota Medan. Orang Medan belum mengapresiasi band-band Medan dan masih berkiblat kepada band-band major label Jakarta. Akibatnya, Medan belum menjadi rumah yang ramah bagi band-band Medan. Apalagi jika berniat menjadikan musik sebagai sandaran ekonomi.

Sulit bicara ekonomi kreatif di Kota Medan. Di samping fasilitas pendukung, apresiasi warga Medan sendiri pun minim. Kalau memang Medan ingin dijadikan sebagai kota industri kreatif, itu bukan sesuatu yang mustahil. Meski butuh waktu yang lama. Tapi, sekali lagi ini membutuhkan keseriusan pemerintah kota, apresiasi masyarakat, dan kepercayaan diri para pelaku untuk tampil dengan ciri khas Medan. Medan butuh sesuatu yang ikonik untuk bisa dibanggakan.

Semoga Kreativitas Bukan Sesuatu Yang Absurd di Kota Tercinta Ini.