Kalau bangsa Yunani, Rusia, Mesir, Cina, Korea, Jepang, Thailand, dan Jawa punya aksara atau huruf tersendiri, bangsa Batak juga punya aksara yang menggambarkan peradaban bangsa Batak yang bisa dikatakan tidak lagi primitif.

 

Selain sudah memiliki penanggalan dan kalender tersendiri yang disebut “Porhalan”, bangsa Batak sudah mengenal tulisan sejak zaman dahulu dan konon aksara ini wajib diketahui dan dikuasai oleh datu (dalam bahasa batak) atau yang dikenal dengan dukun untuk penggunaan ilmu sihir, ramalan, dan penanggalan. Aksara ini bagi bangsa Batak disebut sebagai “Surat Batak”. Surat Batak adalah nama aksara yang digunakan untuk menuliskan bahasa-bahasa Batak yaitu bahasa Angkola-Mandailing, Karo, Pakpak-Dairi, Simalungun, dan Toba.

Namun, seiring perkembangan zaman, aksara Batak sudah banyak ditinggalkan, dan hanya segelintir orang saja yang bisa membaca dan menguasai penulisan aksara Batak.

Berbeda dengan aksara Jawa yang kerap kali kita temukan di setiap tikungan dan ujung jalan, tepatnya di papan nama jalan di Pulau Jawa, umumnya nama-nama jalan di Pulau Jawa ditulis dengan dua jenis aksara, yakni alfabet Latin dan aksara Jawa.

Bukan hanya aksara, bahkan bahasa Batak sudah banyak ditinggalkan. Banyak orang Batak yang malu berbahasa Batak. Seperti peribahasa yang mengatakan, “Tak kenal, maka tak sayang”, untuk melestarikan bahasa, aksara, budaya, dan kearifan lokal, kita harus mengenali secara lebih mendalam tentang kekayaan budaya kita, maka rasa bangga itu sendiri akan muncul dengan sendirinya.

Jika sedikit dikaitkan dengan industri pariwisata, bangsa Batak bisa mempertahankan eksistensi Toba dan Samosir sebagai icon pariwisatanya jika saja kita bisa melestarikan budaya, tradisi, bahasa dan aksara Batak. Kunci dari berhasilnya industri pariwisata di Toba dan sekitarnya bukanlah pada pelestarian alam, infrastruktur maupun fasilitas dan sarana dalam industri pariwisata. Kesemuanya yang disebutkan tadi memang penting, namun bukan yang terpenting. Namun, kunci utamanya ialah bagaimana penduduk Toba yang mayoritas Batak menunjukkan keunggulan kompetitif yang mendiferensiasikan dirinya dengan destinasi wisata lainnya. Salah satunya dengan “meng-eksis-kan” aksara Batak yang menjadi identitas budaya Batak sebagai alat dan media dalam mengidentifikasi budaya dan peradaban bangsa Batak.

Jika kita menilik Bali dengan kunjungan wisata mancanegara dan wisatawan domestik yang membludak, itu bukan disebabkan pantai dan suasana alamnya yang memukau. Banyak yang lebih memukau dibandingkan Bali, seperti Hawai, Maladewa, Raja Ampat, namun mengapa wisatawan mancanegara banyak memilih ke Bali? Jawabannya adalah pada keaslian dan kemurnian dari budaya dan tradisi Bali yang terjaga. Masyarakat Bali sangat menjaga kelestarian budaya dan tradisi yang mereka miliki yang pada akhirnya menarik banyak wisatawan dari dalam dan luar negeri berbondong-bondong ke pulau memiliki keunikan dan “keaslian” yang tidak bisa dijumpai di tempat lain.

Mari kita masyarakat Kota Medan, belajar dari Bali yang bisa menjaga “keasliannya”. Keaslian kita bisa dimulai dari hal sederhana dimulai dari diri kita sendiri, yaitu mendalami kekayaan budaya kita dan menumbuhkan rasa bangga sebagai bagian dari masyarakat dan budaya itu sendiri, dan tentunya tetap menjaga bahasa daerah dan aksara yang menjadi identitas bangsa dan kesukuan kita. Kalau Bali bisa, kenapa kita tidak bisa ?