“Bangsa yang besar adalah bangsa yang tidak melupakan sejarahnya”, begitu kira-kira bunyi sebuah pepatah zaman dahulu. Artinya sebuah bangsa yang dianggap besar adalah bangsa yang dapat belajar dari masa lalunya, hal itu bisa dilakukan salah satunya dengan cara merawat gedung gedung peninggalan sejarah. Kita dapat belajar banyak dari gedung tersebut seperti bagaimana bangunan tersebut dibangun, alasan bangunan tersebut dibuat, dan lain-lain. Lalu bagaimana dengan Kota Medan ?

 

Kota Medan merupakan salah satu kota Metropolitan dengan penduduk mencapai 2.9 juta jiwa. Pada tahun 2011 Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Kota Medan sebesar Rp 93,37 triliun dengan pertumbuhan ekonomi sebesar 7,9 persen. Saat ini bisa dibilang Kota Medan merupakan kota maju dari sisi ekonomi. Hal ini ditunjukkan dengan pendapatan perkapitanya yang mencapai  Rp 43,8 juta per tahun. Kota Medan sendiri menurut sejarah didirikan oleh Guru Patimpus Sembiring Pelawi pada tahun 1590 yang sebelum itu masih bernama kawasan kampung medan dan berpenduduk 200 orang yang dipimpin oleh Tuanku Pulau Berayan, dan pada tahun 1886 medan secara resmi memperoleh status sebagai kota.

Sebagai kota yang telah berdiri selama ratusan tahun, tentu saja banyak situs situs bersejarah yang ada di Kota Medan, baik berupa gedung, bangunan maupun kawasan heritage lainnya. Situs situs tersebut di bangun dengan berbagai alasan, misalnya saja untuk kebutuhan sehari-hari, sebagai taman kota, gedung pertemuan, kantor dan lain-lain yang memiliki sejarah tersendiri. Misalnya saja lapangan merdeka  yang terletak di jantung Kota Medan. Kawasan ini dulunya bernama ‘esplanade’ yang berarti lapangan terbuka dalam bahasa belanda. Pada masa penjajahan jepang lapangan ini bernama fuku ridu. Setelah Indonesia merdeka, di kawasan inilah pertama kali bendera merah putih dikibarkan di Kota Medan. Inilah mengapa kawasan ini dinamakan lapangan merdeka dan untuk mengenang peristiwa heroik ini didirikan Monumen Proklamasi di sisi timur. Tetapi sangat disayangkan sekitar tahun 2008 lalu lapangan merdeka ini sebagian lahannya di jual ke pihak swasta sehingga mempersempit kawasan lapangan tersebut.

Adapula gedung eks balai kota yang pada zaman dahulu di gunakan sebagai gedung pemerintahan. Gedung ini merupakan lambang kejayaan Kota Medan pada masanya. Gedung eks balai kota memiliki keunikan tersendiri dibanding gedung tua lainnya di Kota Medan. Misalnya, pada bagian menara terdapat jam dan lonceng buatan sebuah pabrik di Belanada Van Bergen yang dipasang pada tahun 1913. Jam ini merupakan sumbangan Tjong A Fie, seorang saudagar Cina yang sukses membangun perkebunan di Tanah Deli. Dan lagi-lagi sangat disayangkan bangunan ini digadaikan oleh pemerintah kepada pihak asing, yang untungnya pihak asing tersebut tidak merusak atau bahkan menghancurkan bangunan tersebut dan malah mengalihfungsikan bangunan tersebut untuk keperluan bisnis.

Masih banyak lagi situs-situs sejarah di kota medan yang dihancurkan  misalnya Menara Air di antara Kantor Pos Medan dan Hotel De Boer yang dirubuhkan oleh Bank Sumut Tahun 2006, Hotel Grand Medan di jalan pulau pinang (Diruntuhkan tahun 1970 an), Gedung KNI di jalan Sukamulya Medan (sedang dalam proses pembiaran), Villa kembar di jalan diponegoro (eks Deli Matsch) Dirobohkan tahun 2009, dan lain-lain. Bangunan-bangunan tersebut biasanya dirobohkan dengan alasan pembangunan bangunan baru, dijual ke pihak asing atau rusak dimakan usia.

 

Harusnya sebagai kota yang memiliki banyak situs bersejarah, medan dapat memanfaatkan situs-situs tersebut sebagai objek wisata seperti yang dilakukan oleh kota-kota di negara lain misalnya Jerman, Spanyol, Inggris dan kota-kota lain yang memanfaatkan bangunan tua sebagai objek wisata untuk menarik perhatian turis dan menghasilkan pendapatan yang  cukup lumayan. Oleh karena itu, sebenarnya bisnis dapat dijalankan bersamaan dengan pelestarian situs bersejarah asalkan dilakukan dengan baik dan benar.