Selebihnya atau 95 persen akan mencari pekerjaan dan menunggu penerimaan CPNS. Inilah gambaran umum mental mahasiswa dan orang muda di Medan. Tak heran, kalau kemudian industri kreatif pertumbuhannya bergerak lamban di kota ini.

Bandingkan dengan kota-kota besar lain di Pulau Jawa. Bandung merupakan kota yang paling maju dalam perkembangan industri kreatif di Indonesia. Mengapa Bandung bisa menjadi kota yang paling maju dalam hal industri kreatif? Jawabannya adalah karena di Bandung telah tercipta satu lingkungan atau ekosistem yang kondusif dan mendukung untuk perkembangan industri kreatif.

Begitu banyak industri kreatif dari kota kembang ini mulai dari desain grafis (merebaknya distro-distro di kota Bandung), rumah musik, film indie, lahirnya musisi kawakan dan lain-lain.

Bandingkan dengan Medan. Kalaupun ada di beberapa sektor garapan jumlah yang ada di Medan masih terbilang jari. Sebut misalnya di sektor seni dan sinematografi ada Kensington. Atau di bidang IT yang cukup dikenal adalah Dolly Aswin pengusaha muda yang telah punya perusahaan web developer. Sedangkan di bidang fesyen misalnya kini ada model kaos ala dagadu jogya yaitu Tau Ko Medan.

Mengapa Medan tak bisa berkembang seperti Bandung atu Jogya dengan industri kreatif yang digawangi anak-anak mudanya? Katanya sih, kondusi sulit membuat orang-orang lebih kreatif. Mungkin teori ini ada benarnya. Persaingan ketat, lahan yang kian sempit serta kehidupan yang berat membuat munculnya ide-ide kreatif untuk bisa tetap eksis dan justru menciptakan peluang usaha baru. Ini lah yang kiranya belum muncul di Medan.

Data dari Departemen Perdagangan Indonesia sendiri mendefinisikan jenis-jenis usaha yang termasuk dalam kategori usaha atau industri kreatif ke dalam 14 subsektor, yaitu: (1). periklanan; (2). arsitektur; (3) pasar barang seni; (4). kerajinan; (5) fesyen; (6). video, film dan fotografi; (7). musik; (8). seni pertunjukan; (9). penerbitan dan percetakan; (10) televisi dan radio; (11). riset dan pengembangan; (12). layanan komputer dan piranti lunak; (13). permainan Interaktif; (14).

Desain. Nah, sejauh ini tren industri kreatif yang tumbuh di Medan lebih banyak berkiblat ke Pulau Jawa. Padahal potensi Medan dengan sumber daya alamnya masih sangat luas. Apalagi belum banyak yang menekuninya. Minimnya praktik kewirausahaan di kampus serta lemahnya dukungan dari Pemerintah Kota boleh jadi penyebab lambatnya pertumbuhan entrepreneur muda di Medan.

Lembaga-lembaga usaha seperti Kadin Sumut, Kadin Medan maupun Pemko Medan sendiri tak terlihat gebrakannya dalam mendorong lahirnya entrepreneur-entrepreneur baru. Paling banter, Pemko Medan hanya membuat even semacam pameran UKM. Namun ironisnya, dari sekian pameran UKM jarang terlihat entrepreneur-entrepreneur baru. Yang ada pesertanya itu-itu saja. Sementara pelatihan-pelatihan kewirausahaan cukup sepi bahkan minim ekspose.Tak banyak informasi tentang adanya pelatihan-pelatihan kewirausahaan yang diadakan lembaga resmi pemerintah maupun komunitas pengusaha seperti Kadin maupun HIPMI.

Bahkan, dari jelajah internet tak satu pun lembaga pemerintah maupun swasta yang merilis berapada data resmi jumlah industri kreatif dan entrepreneur muda di Medan? Adakah ini satu bukti belum adanya perhatian pemerintah terhadap para entrepreneur muda? Hanya sedikit gambaran, yang diperoleh dari Komunitas Tangan Di Atas (TDA) Sumut. Komunitas ini merilis ada sekitar 293 anggota komunitas mereka terdiri dari entrepreneur muda, UKM dan orang-orang yang berminat wirausaha. Pertanyaannya, berapa persenkah entrepreneur muda yang ada di Kota Medan ini di antara jumlah penduduk kurang lebih 2 juta jiwa ini? Persentasenya mungkin masih sangat kecil.

Lemahnya mental, kerja keras, disiplin, keberanian, dan kurang bertanggung jawab dan ulet adalah persoalan anak Medan. "Inilah menjadi tantangan bagi entrepreneur muda di Medan, karena masalah mental seperti meyakini apa yang kita yakini, itu yang tidak dipunyai anak muda Medan sekarang. Karena begini, satu sisi Medan susah menerima hal baru dan pasti membutuhkan waktu, sekarang tahan tidak untuk menjalani waktu yang itu," komentar entrepreneur muda sekaligus pencetus ide Kaos Tau Ko Medan Fathraria.

Hal senada juga diungkapkan Alween Ong, pemilik usaha 'Narsis Digital Printing'. Menurutnya, satu alasan utama bahwa entrepreneur muda dapat mendirikan sebuah perusahaan yang sukses dan berpengaruh adalah karena mereka ingin maju dan tidak takut gagal. "Saya menjadi entrepreneur muda seperti ini tidak dengan mudah dan penuh dengan perjuangan, intinya kita harus bekerja keras," kata wanita 27 tahun ini yang kini sebagai owner CV Alcompay Indonesia.

Alween Ong menegaskan, sudah saatnya mahasiswa membuka lahan pekerjaan dan bukan mencari kerja. Sebab, semua orang mempunyai kesempatan dan potensi menjadi seorang entrepreneur. Menjadi seorang entrepreneur bukan karena sebuah paksaan, "Jadilah seorang entrepreneur dan buat diri Anda menjadi seorang pengusaha sukses. Tidak ada kesempatan kedua, karena waktu akan terus berjalan," tandas wanita kelahiran Padang, 29 Januari 1985 tersebut.(yayuk masitoh/zulfadli)

http://medanbisnisdaily.com/news/read/2013/01/20/8154/pertumbuhan_industri_kreatif_di_medan_lamban