Jauh sebelum acara itu digelar dan menjadi satu pembahasan dalam Pilpres tahun ini, ekonomi kreatif ternyata telah menjadi satu sisi potensial yang digarap para pekerja kreatif atau kerap disebut creative junkies - istilah untuk pekerja kreatif yang dipopulerkan entrepreneur muda Indonesia, Yoris Sebastian.

"Kalau kita bicara ekonomi kreatif, akan banyak sekali bidang yang harus dibahas. Di situ meliputi musik, seni dan budaya, hiburan, kerajinan (handycraft), fashion, film dan industri event (event organizer), seni pertunjukan, fotografi, kuliner dan masih banyak bidang lagi," kata Muhammad Fery Budiman Sumbayak, salah satu pekerja event organizer Medan yang sudah berkecimpung di industri itu sejak tahun 1998.

Pada dasarnya, ujar Fery, ekonomi kreatif merupakan kerja kreatif yang pada ujungnya bermuara pada pergerakan ekonomi. "Bagaimana kreativitas menjadi industri," ujar Fery suatu kali dalam sebuah obrolan dengan entrepreneur yang mengawali karirnya dengan menggelar event musik kampus itu.

Peneliti dari Fakultas Ilmu Budaya Universitas Sumatera Utara (USU) Asmyta Surbakti, dalam peluncuran buku Seribu Sajak Tao Toba di Taman Budaya Sumatra Utara, Medan, belum lama ini menyebut ekonomi kreatif akan menjadi "lahan" yang potensial untuk digarap generasi muda saat ini. "Intinya, bagaimana membuat suatu kreativitas menjadi bernilai uang," ujar Asmita yang juga merupakan aktivis seni dan budaya Medan itu. 

Berdasarkan data dari World Economy Forum yang dirilis Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif melalui portal Indonesia Kreatif, dari survei yang dilakukan di 148 negara, Indonesia berada di urutan ke-38 dari segi Global Competitiveness (daya saing global) dan urutan ke-76 dari sisi Network Readiness (kesiapan jaringan) dari 144 negara. 

Sementara dari sisi Global Innovation (inovasi global), berdasarkan data WIPO (World Intelectual Property Organization), Indonesia masih berada di urutan ke-85. Sedangkan dari sisi Industrial Competitiveness (daya saing industri global), berdasarkan survey yang dilakukan UNIDO (United Nations Industrial Development Organization), Indonesia masih berada di peringkat ke-38 dari 133 negara.

Berdasarkan pengamatan MedanBisnis, bidang ekonomi kreatif telah menjadi daya tarik bisnis yang menyebar seolah menjadi virus di kalangan pekerja muda. Memang belum ada survei khusus yang dilakukan terhadap data usia yang berkecimpung di bidang ini, khususnya di Kota Medan.

Namun, seperti dikatakan Fathararia Damanik, seorang pekerja kreatif Medan yang merupakan salah satu founder clothing Tauko Medan, pergerakan ekonomi kreatif di Medan sudah dimulai sejak tahun 1990-an.

Namun, yang paling terasa gaungnya pada tahun 2000-an ketika tidak sedikit anak-anak muda Medan yang melahirkan label-label indie (independent) untuk karya kreatifnya. Semisal, musik, penerbitan majalah. Beberapa bidang ekonomi kreatif yang terbilang berhasil ialah industri radio dan event organizer, juga clothing.

http://mdn.biz.id/n/105269/