Nama saya Mega, lengkapnya Mega F. Soraya. saya merupakan anak pertama dari 4 bersaudara. Latar belakang keluarga kami bukanlah dari keluarga yang religius. Tapi kami tetap berusaha menjalankan ajaran Islam dengan sebaik-baiknya.

Cerita hijab ini dimulai sejak saya duduk di bangku SD. Saya bersekolah di SD Muhammadiyah 01 Pematang Siantar.

Pada saat SD kelas 1 dan 2, peraturan sekolah tidak mewajibkan  kami  mengenakan busana berjilbab di sekolah dan kami pun tidak mengenakan jilbab pada saat itu. Kemudian keluarlah peraturan baru mengenai setiap siswa perempuan diwajibkan memakai jilbab. Saya mengikuti peraturan itu dan semenjak itu saya mulai berjilbab. Sampailah dikelas 6 SD, dan saya masih mempertahankan jilbab ini.

 Keinginan terbesar saya setelah SD adalah melanjutkan ke pesantren. Kebetulan pada saat kelas 5 SD, saya dan ke 3 teman sekolah  menjadi perwakilan ke Pesantren Darul Arafah Medan untuk mengikuti Olimpiade Agama Islam se-Sumatera Utara bergabung dengan siswa-siswi lainnya diseluruh Sumatera Utara. Alhamdulillah tim kami masuk dalam 6 besar terbaik. Walaupun tidak menjadi juara umum, kami tetap bersyukur dan merasa senang dengan hasil yang kami peroleh. Selama 4 hari kami bergabung dengan siswa lainnya dan kakak-kakak yang memang siswa Pesantren. Makan bersama, tidur di kasur bersama, bangun pagi dan sholat berjamaah, mengaji bersama, berada di pondok mereka adalah sesuatu yang sangat menyenangkan. Saya merasa nyaman berada di sekitar mereka. Berdiskusi dan membicarakan tentang agama adalah sesuatu yang menarik dan sangat saya sukai. Sejak itu minat untuk sekolah dan menetap di pesantren sangat besar bagi saya.

Saya utarakan keinginan ini kepada Ayah untuk sekolah di pesantren. Saya berharap Ayah memberikan ijin. Ternyata harapan ini berbanding terbalik dengan kenyataan. Ayah tak mengijinkan saya  melanjutkan pendidikan di pesantren. Tak ada alasan khusus kenapa saya tidak diberikan ijin bersekolah di pesantren. Saya hanya bisa diam dan masuk kekamar sambil terisak. Saya yang hanya anak perempuan berusia 12 tahun mengikuti kata ayah dan hilanglah harapan menjadi santri di pondok pesantren impian itu.

Saya memperoleh nilai yang memuaskan pada saat kelulusan SD. Alhamdulillah aku masuk dan diterima di salah satu SMP favorit di kota ini, SMP N 1 P.Siantar namanya. Saya biasa saja, karena bukan itu impian yang diharapkan. Dikarenakan ini merupakan sekolah negeri dan pada saat itu belum banyak siswa yang mengenakan jilbab, maka aku pun terikut arus dan tidak mengenakan jilbab. Entah apa yang dirasakan sampai saya menanggalkan jilbab ini. Mungkin karena kekesalanku pada Ayah mengenai sekolah pesantren yang diinginkan tapi tak dikabulkan.

Sampai pada masuk SMA, saya juga belum mengenakan jilbab. Hanya pada saat ada jam pelajaran agama saja mengenakan jilbab. Kemudian saya tamat SMA dan kini menjadi seorang mahasiswa. Saya tidak lulus di universitas negeri dan saya masuk di Universitas Islam Sumatera Utara. Semenjak kuliah saya selalu memakai hijab. Kampus kami mewajibkan setiap mahasiswa perempuan yang beragama Islam wajib memakai hijab dikarenakan kampus kami adalah kampus yang Islami.

Entah apa yang  dirasakan saat kuliah, saya terus menggunakan hijab. Keadaaan jauh dari orangtua sebagai anak kos yang serba pas-pasan, saya mulai mengerti apa itu hidup. Mensyukuri apa yang ada dan berusaha kuat dalam setiap keadaan adalah hal yang harus dilakukan. Saat sendiri saya sering terfikir keadaaan orangtua saya disana, sering pula airmata jatuh bersama keheningan dikamar kos.

Bagaimana mungkin seorang anak perempuan yang dilepas orangtua ke kota lain untuk menuntut ilmu bisa hidup dengan baik ?

apakah si anak perempuan ini bisa makan seenak dirumahnya ?

apakah si anak perempuan sanggup menjaga amanat orangtuanya ?

dan mampukah si anak perempuan menjaga marwah dan kehormatan dirinya ?

 QS. An-Nuur: 31

“Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung ke dadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putera-putera mereka, atau putera-putera suami mereka, atau Saudara-saudara laki-laki mereka, atau putera-putera saudara lelaki mereka, atau putera-putera saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita islam, atau budak-budak yang mereka miliki, atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap wanita) atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita. Dan janganlah mereka memukulkan kakinya agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, Hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung.”

Itu salah satu ayat yang dibacakan kakak raka pada saat acara bimbingan akademik  (MOS) beberapa waktu saat saya memasuki kuliah. Saya terenyuh dan mulai berfikir bahwa ayat tersebut benar adanya. Saya mulai menyadari bahwa anak perempuan ini sudah dewasa dan baligh serta harus menjaga marwah  dan menutup aurat. Sejak itu saya berhijab baik ke kuliah ataupun keluar rumah walau untuk membeli nasi. Saya berusaha menjaga hijab ini dengan baik walau terkadang masih belum sempurna.

Hijab bukanlah pilihan, hijab adalah kewajiban.

Bagaimana mungkin saya yang hanya wanita akhir jaman mengharap surga Illahi kalau berpakaian saja tak mengikuti anjuran agama ?

Kedepannya semoga saya, kamu, dan kita semua para muslimah dapat menyadari bahwa hijab adalah kewajiban dan Allah SWT membukakan hidayah kepada kita semua agar tetap istiqomah.

Insyaallah..