Assalamualaikum Wr Wb

Hei hei perkenalkan namaku Cut Zeinita Ameilia, biasa dipanggil icut. Aku seorang gadis berdarah aceh dan padang, yang kebetulan lahir dimedan, sekitar 23 tahun yang lalu. Ayahku bersuku aceh dan ibuku bersuku padang. Saat ini aku kuliah disalah satu kampus swasta di Medan, dan merupakan mahasiswi semester akhir. Yaap, lagi sibuk-sibuknya skripsi. Hehehe… Aku mau menceritakan pengalamanku mengenai hijab.

Orangtuaku terlahir dari keluarga yang islami dan  memiliki agama yang kuat. Dari kecil mereka sudah dibekali tentang agama islam. Dan selalu diterapkan kepada anak-anaknya. Sedari kecil aku dan adik-adikku sudah dibekali tentang agama islam. Selalu mengingatkan kami untuk tidak lupa menjalankan sholat 5 waktu, membaca al-qur’an, selalu mengingat kepada Allah dan memperkenalkan kami kepada hijab.

Dari Taman kanak-kanak (TK) sampai sekolah dasar (SD) orangtuaku menyekolahkanku di sekolah madrasah. Dimana sekolah yang memprioritaskan dan menerapkan agama islam sebagai pedoman mengajar siswa-siswinya. Selain itu, mereka mewajibkan bagi siswa untuk menggunakan baju muslim dan lobe atau peci, begitu juga siswinya wajib mengenakan hijab. Nah, itulah awal mula orangtuaku mengenalkan agama islam kepadaku dan pertama kali aku mengenakan hijab.

Ketika aku duduk di bangku sekolah menengah pertama (SMP) aku tetap berhijab saat sekolah. Tetapi hanya saat sekolah saja aku berhijab, saat berpergian atau diluar sekolah aku tidak menggunakan hijabku. Karena kebiasaan dari TK-SD selalu memakai hijab ketika sekolah. Dan orangtuaku pun tidak memaksaku untuk selalu menggunakan hijab. Itu berlangsung sampai aku duduk dibangku sekolah menengah atas (SMA). Aku tetap memakai jilbab ketika sekolah saja. Karena aku memang belum mengerti apa itu hijab ? Dan kenapa seorang muslimah harus menggunakan hijab.

Saat aku mau memasuki dunia perkuliahan, orangtuaku bertanya padaku “saat kuliah nanti kakak mau berhijab apa nggak?”. Dan aku menjawab dengan yakin “iya, kakak mau  berhijab”. Dengan semangat aku memborong beberapa hijab untuk dipakai saat kuliah nanti. Orangtuaku tersenyum ketika aku memborong beberapa jilbab. Tapi, lagi-lagi aku tidak konsisten dengan perkataanku yang ingin berhijab. Yaaap, aku berhijab hanya saat aku kuliah saja. Disaat berpergian aku tidak memakai hijab

Orangtuaku tidak marah padaku, tapi aku tahu mereka pasti kecewa karena mereka menginginkan anak gadis sulungnya tetap memakai hijabnya. Aku pingin memakai hijabku terus dan tidak melepasnya lagi. Tapi didalam hatiku, aku belum siap! Kenapa? Karena aku takut menodai hijabku hanya karena sikapku yang masih belum dikatakan baik. Walaupun aku tahu, dengan aku membuka tutup hijabku itu sama aja aku menambah beban orangtuaku. Terutama ayahku, karena beliaulah yang akan menanggung dosaku.

Pernah suatu waktu, ibuku bertanya padaku “kenapa gak dipake terus hijabnya kak? Kan bagus kalau berhijab”. Aku menjawab dengan entengnya “ kakak belum siap ma. Lagian orang yang berhijab belum tentu sikap dan sifatnya sebaik orang yang tidak berhijab. Banyak diluar sana perempuan-perempuan yang berhijab mengotori hijab mereka dengan kelakuannya. Gak mama tengok tuh di TV atau diluar sana, wanita berhijab yang justru berbuat tidak baik dan mencoreng agama islam”. Ibuku hanya bilang “ jangan pernah melihat orang lain, lihatlah diri kita sendiri dan perbaikilah diri kita sendiri”. Dan aku hanya terdiam ketika ibuku berbicara seperti itu.

Saat aku mulai memasuki semester 7, aku kaget melihat salah satu seniorku yang baru selesai kuliah kekampus dengan berhijab. Aku senang dia berhijab. Karena selama kuliah dia selalu memperlihatkan mahkotanya yang indah. Dan jujur, sempat terlintas dipikiranku apa dia berhijab terus dan gak akan melepas hijabnya.

Berapa bulan berlalu dia tetap konsisten dengan hijabnya, dan dia juga makin hari semakin menjadi orang yang lebih baik dari sebelumnya. Eits, bukan berarti sebelum berhijab dia tidak baik. Dia sangat baik. Aku sering memperhatikan dia berpakaian dan membandingkannya dengan dia yang dulu. Memang dia lebih cantik dengan dirinya yang sekarang ketimbang yang dulu. Muka dia lebih berseri. Aku penasaran kenapa bisa begitu, apa karena dia sudah mulai berhijab? Tapi banyak orang-orang yang berhijab tak begitu berseri.

Ketika kami berkunjung kerumahnya untuk memberi surprise, karena saat itu dia lagi berulangtahun. Kami gedor kamarnya dan dia tidak menyaut. Salah satu temanku membuka pintu kamarnya, dan ternyata dia sedang mengaji. Disitu rasa penasaranku hilang. Ternyata dia tidak menghijab kepalanya saja, tapi juga imannya. Dan dia selalu sholat 5 waktu, , itu yang membuat wajahnya berseri karena dia tidak lupa membasuh wajahnya dengan air wudhu setiap hari. Dan jujur itu membuat diriku menjadi malu. Karena aku duluan mengenal hijab, tapi aku tidak seperti dia yang baru menggunakan hijab bisa menghijab kepalanya dan imannya.

Aku ceritakan ke ibuku soal dia, dan ibuku salut sama dia. Beliau balik lagi bertanya kepadaku kapan aku bisa seperti dia. Dan selain itu, aku juga punya teman-teman satu jurusan yang selalu berhijab, setiap ngumpul sama mereka aku selalu memakai hijab. Karena aku malu sama mereka yang konsisten untuk tetap memakai hijab.

Mulai saat itu aku baca beberapa blog di internet soal hijab. Aku menemukan sebuah blog yang menjelaskan tentang ayat-ayat al-qur’an dan hadis mengenai hijab. Yaitu; “Wahai Nabi, katakanlah kepada istri-istri, anak-anak perempuan dan istri-istri orang Mukmin, ‘Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka.’ Yang demikian itu supaya mereka mudah dikenali, oleh sebab itu mereka tidak diganggu. Dan Allah adalah Maha pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-Ahzab: 59)

“Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung ke dadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putera-putera mereka, atau putera-putera suami mereka, atau Saudara-saudara laki-laki mereka, atau putera-putera saudara lelaki mereka, atau putera-putera saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita islam, atau budak- budak yang mereka miliki, atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap wanita) atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita. Dan janganlah mereka memukulkan kakinya agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, Hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung.” (QS. An-Nuur: 31).

Saat aku membaca ayat-ayat al-qur’an dan hadis tersebut, aku mulai berpikir apa yang aku lakukan selama ini, seenakku memakai dan melepas hijabku. Aku mulai memantapkan diri untuk tidak melepas hijabku lagi dan mulai belajar untuk menjadi orang yang lebih baik.

Di bulan Ramadhan kemaren sebagai bentuk aku mulai belajar untuk tidak melepas hijab, dan belajar menjadi yang lebih baik. Sampai lebaran kemaren aku pulang kampung kerumah nenekku, dia sangat senang karena cucunya sudah mulai berhijab. Aku ingat kata-katanya “udah pake jilbab sekarang kak? Gitulah kan cantik”. Nenekku salah satu orang yang paling ingin aku untuk mengenakan hijab. Dan aku senang bisa membuat orangtuaku, nenekku dan seluruh keluarga aku senang.

So, seorang muslimah memang diwajibkan mengenakan hijab, karena bagi seorang muslimah hijab itu adalah mahkota mereka yang lebih indah. Dan salah satu alat untuk terhindar dari gangguan-gangguan yang tidak menyenangkan. Jangan berpikir kita berhijab gak bisa modis. Hei hei buat para hijabers, sudah banyak designer-designer yang mendesign hijab dan baju yang modis untuk para hijabers kok. Tapi tetap sesuai dengan syariat islam. So, jangan takut ketinggalan jaman teman.

Hijab memang saja hanya sehelai kain, namun hakekat atau arti dari jilbab itu sendiri yang harus kita pahami. Bahwa Hakekat jilbab adalah hijab lahir batin. Hijab mata kamu dari memandang lelaki yang bukan mahram kamu. Hijab lidah kamu dari berghibah (ghosib) dan kesia siaan, usahakan selalu berdzikir kepada Allaah Subhaanahu wa ta’ala. Hijab telinga kamu dari mendengar perkara yang mengundang mudharat baik untuk dirimu maupun masyarakat. Hijab hidungmu dari mencium cium segala yang berbau busuk. Hijab tangan-tangan kamu dari berbuat yang tidak senonoh. Hijab kaki kamu dari melangkah menuju maksiat. Hijab pikiran kamu dari berpikir yang mengundang syetan untuk memperdayai nafsu kamu. Hijab hati kamu dari sesuatu selain Allaah Subhaanahu wa ta’ala, bila kamu sudah bisa maka jilbab yang kamu pakai akan menyinari hati kamu, itulah hakekat jilbab.

Nah, itulah ceritaku soal “My Experience with My Hijab”. Semoga bisa menginspirasikan kalian yang membacanya. Aku hanya seorang gadis yang masih belajar soal agama islam. Dan baru memantapkan diri untuk tidak melepas hijab. Dan semoga tulisanku bermanfaat untuk kalian.

Wassalamualaikum Wr. Wb