Bermula dari ucapan seorang guru ngajiku berkata "Arinda cantik banget kalau pake jilbab" ujar ustadzah. Ya kebetulan saat duduk di sekolah dasar dulu aku sempet menjadi salah seorang murid madrasah diniyah awaliyah. Karena judulnya adalah mengaji maka tidak ada alasan lain untukku untuk tidak menggunakan hijab padahal  di sekolah dan keseharianku dulu aku tidak menggunakan jilbab. Kata-kata dari ustadzah itu terngiang selalu sampai pada saat aku ingin memasuki sekolah tingkat SLTP aku sempat bernazar

" Ya Rabb jika aku lulus masuk ke madrasah tsanawiyah negeri yang aku inginkan maka aku berjanji akan mengenakan jilbab juga  pada saat berpergian". Dan terjawab lah nazarku dan aku lulus padahal nilaiku sangat rendah untuk masuk seleksi. Tapi Allah mengabulkan doaku dan terjawablah sudah dan aku harus menunaikan nazarku. Mulai dari itu ketika aku berpergian dengan teman-temanku apakah itu untuk berpergian jalan-jalan atau belanja aku mulai mengenakan jilbab . Ya jilbab seadanya hal itu kulakukan karena nazarku. Tetapi ketika sekedar keluar rumah atau masih sekitaran area yang dekat dari rumahkun aku enggan mengenakan jilbabku. Karena aku berpikiran cukup ribet kalau harus setiap keluar dari rumah harus mengenakan jilbab dan yang penting kalau berpergian jauh saja aku sudah mengenakan jilbab itu sudah cukup. Sekali lagi yang penting nazarku terpenuhi pikirku. Lalu akhirnya dari mulai SLTP hingga SMA sikapku ku pun masih sama mengenakan jilbab hanya saat sekolah dan berpegian jauh. Ya jibabnya pun tetap seadanya gaya ala anak SMA dan tak jarangpun pakaian dan celana yang kukenakan masih terbilang ketat dan aku tak mempermasalahkan karena yang penting judulnya berjilbab.

Tibalah saat memasuki dunia perkuliahan alhamdulillah Allah menakdirkan ku lulus di USU tepatnya fakultas ekonomi dan bisnis di jurusan manajemen melalui jalur ujian tertulis. Disitu aku mulai berjumpa dan melihat sebagian kecil seniorku banyak yang menggunakan jilbab besar atau bisa dibilang jilbabers . Jujur aku sangat takut melihat mereka yang katanya identik dengan teroris atau apapun itu. Tanpa disengaja aku menerima sms dari seorang kakak senior bahwa mahasiswa baru harus mengikuti salah satu program menambah nilai mata kuliah agama islam yaitu "mentoring" karena penasaran dan karena dengan tujuan menambah nilai mata kuliah agama islam pun aku mengikutinya. Kebetulan teman-teman sekelasku jaga mengikutinya dan sekelompok denganku. Ternyata mentor dalam mentoring itu adalah salah seorang kakak yang berjilbab besar. Salah satu materi dalam mentoring yang lambat laun berjalan itu adalah permasalahan tentang "Hijab Syar"i" dan aku terhentak ketika tau bahwa memang Allah memerintahkan kita untuk menutup aurat sebagai identitas seorang muslimah dan menjaga agar ayah dan saudara laki-laki kita tidak terjerembab ke dalam neraka akibat satu helai rambut yang terlihat kepada yang bukan muhrim kita. Dan disana juga aku tangkap bahwa yang dimaksud yang berjilbab syar'i yang di anjurkan oleh Allah dan Rasulnya adalah tidak tipis, tidak ketat,tidak membentyk lekak-lekuk tubuh, menutupi dada, longgar, tidak tabarruj (berlebih-lebihan), dan yang pastinya aurat wanita itu adalah seluruh tubuh kecuali wajah dan telapak tangan. Lalu aku berfikir berarti selama ini aku belum menutup aurat sesuai dengan yang diperintahkan Allah wong kakiku saja masih terlihat dalam kehidupan sehari-hari dan pakaianku masih ketat. Dan sang kakak juga berujar semuanya berproses kalau ingin berubah menjadi lebih baik lagi tidak usah terburu-buru.

Lambat laun kuperhatikan kawan sementoringku ada yang mulai berubah sedikit demi sedikit ada yang mulai memakai rok, kaus kaki dan jilbab yang mulai menutupi dada. Dengan kejadian itu aku termotivasi untuk berubah menjadi lebih baik lagi dan ingin meraih pahala yang sama seperti teman-temanku juga mulai dari jilbab yang kupanjangkan sampai menutupi dada kemudian selang dua minggu aku mulai memakai rok dan selang minggu berikutnya memakai kaus kaki dan pada akhirnya aku mengenakan jilbab double karena jilbab model semasa kuliahku yang sangat ngetren adalah jilbab yang berbahan tipis. Mulai dari kejadian itu banyak perubahan yang kurasakan mulai dari perubahan sikap teman sekelasku yang bilang "Kok berubah Arinda? dicuci pakai apa otak kamu sama anak Musholla?" aku yang saat itu masih awam cuma senyum dan merasa sedih. Tapi kawan sementoring dan kakak-kakak musholla selalu menyemangatiku dan mengapresiasi segala perubahan baik yang ada pada diriku. Dan aku pun sadar bahwa tak penting memikirkan pendapat orang mengenai diri kita yang penting Allah tau apa niatku untuk berhijab semata-mata taat pada perintahnya dan Allah tau penilaian terhadapku toh Allah yang menilai bukan manusia. Akupun menjalani hari-hariku dengan memperbaiki hijab, akhlak dan ibadahku karena yang namanya sudah berhijab syar'i perilakunya juga harus syar'i. Dari mulai menjaga identitasku itu aku pun menanggalkan yang namanya pacaran dan kegalauan yang bersifat duniawi. Karena yang berhijab harus menjaga pintu-pintu perzinahan agar jauh dari fitnah manusia dan menjaga kesucian diri ini hanya untuk yang halal bagiku nanti.

Tidak cukup hanya ujian dari teman-temanku tapi dari orang terdekat di keluargaku juga dan juga yang paling mengujiku adalah ibuku yang melarangku untuk berjilbab panjang dan double dan memakai rok. Disitu aku menjelaskan sedikit demi sedikit kepada ibuku "Mak jilbabnya tipis makanya didouble biar kulitnya gak kelihatan dan gak nyaman pake jins ketat lagi dan aku ingin jadi wanita muslimah mak biar aja orang lain berpandangan sok alim sama aku yang penting aku ingin jadi wanita muslimah agar jodoh yang dikasi Allah nanti juga baik" maka ibuku pun tidak bisa berkata apa-apa dan memberikan senyumannya untukku walaupun aku tau ia masih tak terima dengan jalan yang kupilih. Akhirnya lambat laut ibuku menjadi orang yang paling mengerti aku. Ia mulai membelikanku baju yang tidak ketat dan tidak pernah membelikanku celana lagi dan bahkan ia sering membanggakanku karena yang tak mau memakai celana lagi. Hal itulah yang menjadi motivasi bagiku untuk bisa menjadi orang yang lebih baik lagi dalam berhijab dan berakhlak.

Aku mulai merasa untuk menjaga hijabku di rumahku sendiri juga karena yang tinggal dirumahku bukan hanya keluargaku tapi ada pembantu-pembantu rumah tangga laki-laki yang bukan muhrimku. Aku berpikiran sama saja kalau aku keluar rumah memakai jilbab tapi kalau dirumahku sendiri saja aku tidak menjaga auratku sama saja satu helai rambutku terlihat itu bisa menjadi penyebab ayahku masuk ke neraka maka akupun memutuskan untuk mengenakan hijab mulai dari keluar kamarku sendiri dan alhamdulillah sampai sekarang. Banyak sih sanak saudara atau tetangga yang bilang aku sok alim dan bilang entar rambutnya rontok lo pakai jilbab terus. Tapi aku maju tak gentar untuk tetap terus menganakan hijabku. Toh aku menggunakan hijab kan untuk Allah bukan untuk manusia. Aku tak peduli dengan anggapan orang lain yang penting aku taat akan perintah Allah agar Allah tetap selalu menjagaku.

Di dunia kampuspun aku sekarang juga tak terbatas dalam berteman. Temanku banyak dan sudah paham dengan jalan yang ku ambil. Aku pun dikenal sebagai aktivis kampus musholla yang aktif dalam pemerintahan mahasiswa yang supel . InsyaAllah dengan hijabku lawan jenis pun menjadi lebih menjaga sikap di depanku. yang biasa merokok di depan ku sekarang sudah enggan merokok di depanku dan yang biasa merangkul perempuan sesukanya pun enggan menyentuhku juga. InsyaAllah dengan hijab ini aku makin terjaga dari perilaku tidak baik dan fitnah dan Allah pun memuliakanku.

So.... jangan malu untuk berhijab karena itu identitas kita sebagai muslimah dan tanda taat kita pada Allah. Aku bersyukur pintu hatiku terketuk oleh perintah Allah dan hijabku insyaAllah akan kujaga sampai akhir hayat nanti untuk Allah.